(bisnissurabaya.com) – Perkembangan dunia fashion tidak lepas dari peran bordir. Sebagai salah satu teknik hiasan pada kain, bordir atau sulam makin mempercantik gaun yang kita pakai. Tidak hanya itu saja, motif yang indah bisa ditampilkan dalam berbagai home decoration seperti taplak meja, serbet, dan lain sebagainya.

Dunia bordir konvensional yang dinilai rumit karena butuh ketelatenan serta proses ternyata menjadi labuhan hati Dra Trusti Dhiani Henartiwi MSi untuk berkarya. Ketua Persatuan Pengusaha Bordir (Persadir) Jawa Timur (Jatim) ini menggeluti usaha sulam menyulam sejak 1995 silam.

“Bordir itu sangat menarik sekali. Bordir itu sebetulnya hanya aksen sedangkan baju fungsinya sebagai fashion atau penutup, jadi aksen yang ditampilkan pada fashion,” tutur wanita cantik pemilik MS Sulam ini saat dijumpai di Hotel Grand Darmo, Surabaya jelang pagelaran Batik Fashion Fair 2017.

Dari kecintaannya pada dunia prakarya, Trusti mulai menekuni bordir sejak 1995, dari hobi itu kemudian pengajar salah satu perguruan tinggi swasta ini menjadi instruktur bordir. Semakin lengkap karena Trusti juga membuka galeri MS Sulam di tempat tinggalnya, Ketintang Surabaya.

“Saya senang dengan dunia sulam menyulam, sebetulnya sejak dulu saya lebih ke sulam atau bordir dengan alat jahit tangan (manual),” imbuhnya.

MS Sulam miliknya mengangkat bordir dalam berbagai home decoration. Menonjolkan keunikan sulam tradisional menggunakan tusuk pipih dan benang tenun.

Jika dilihat, proses sulam tangan memang susah dan membutuhkan ketelatenan serta ketelitian. Semisal untuk satu set taplak meja dengan ukuran 2,5 meter x 3 meter lengkap dengan serbetnya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk pengerjaan satu orang, dan tentu saja tidak bisa diborong.

“Karena orang menyulam memiliki taste masing – masing seperti orang memasak dengan taste yang berbeda,” tambah Trusti.

Usahanya saat ini membawahi 26 orang karyawan, dan memiliki rumah tinggal di Mojokerto dan Surabaya. Relasi serta jalinan kerjasama dalam dunia bordir terus ia kembangkan untuk berkreasi.

“Saya mempunyai pengrajin yang membantu kami menyulam, dari Kediri, Mojokerto dan Jombang. Sehingga saya mempunyai banyak teman yang bisa membantu kami dalam memproduksi,” tuturnya. Sedangkan kapasitas produksi dilihat dari custom dan berdasarkan pesanan.

Ada beberapa hal yang membuatnya mencintai sulam, yaitu sulam adalah warisan dari nenek moyang meskipun bukan berasal dari Indonesia, sulam yang mahal bukanlah bahan namun proses pembuatan, sulam atau bordir bisa diaplikasikan baik itu di fashion maupun home decoration, dan dari sulam bisa mendatangkan income (pendapatan).

“Dari dulu banyak hal yang saya pelajari, saya lebih cenderung merangkai bunga kering dan sebagainya, tapi jatuh cinta saya ada di sulam,” papar wanita berhijab ini seraya berharap akan lebih banyak lagi stimulus pemakaian bordir di tanah air khususnya Jatim.(lely)