Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Suku bunga acuan 4,25 persen cukup mendorong investasi. Sejak Januari 2016, Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan bunga (hingga) delapan kali,  ketika Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) menaikkan bunga sebanyak tiga kali.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, mengatakan, diprediksi Federal Reserve pada Desember ini kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga. Saat Federal Reserve menaikkan suku bunga, BI justru menurunkan suku bunga hingga delapan kali dengan total sebanyak 2,0 persen. Penurunan suku bunga hanya bisa terjadi karena inflasi berhasil diturunkan serta defisit ekspor-impor barang dan jasa bisa dikendalikan.

Saat ini, angka defisit hanya sekitar 1,7-1,8  persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Defisit ekspor-impor barang dan jasa pada 2018 diperkirakan berkisar 2-2,3 persen dari PDB. Angka perkiraan sebesar 2-2,3 persen masih tergolong sehat dan pemerintah mengendalikan fiskal anggaran dengan baik  dan bisa kendalikan utang luar negeri. Saat ini, utang luar negeri Indonesia hanya 34 persen dari PDB. Karena itu BI bisa menurunkan suku bunga.

Mirza menambahkan, level suku bunga yang sekarang sudah cukup rendah, dibandingkan dengan level suku bunga pada saat sebelum Amerika Serikat ancang-ancang untuk mengurangi stimulus moneter. Sebagai cerminan suku bunga BI pada 2012 tidak sampai 4,25 persen. Dengan demikian, jika sekarang suku bunga BI adalah 4,25 persen, maka sudah cukup rendah. Dengan besaran suku bunga tersebut, diyakini sudah cukup untuk mendorong investasi. (timothy/stv)