Banyuwangi,(bisnissurabaya.com) – TELUR dikenal sebagai sumber protein tinggi, kaya vitamin. Sehingga, bagus dikonsumsi di segala usia. Rasanya juga gurih, tertutama telur bebek. Tak heran jika makanan berbahan telur banyak disukai. Terbaru, telur bebek diolah menjadi makanan khas. Unik dan alami. Yaki, telur asin bakar. Kuliner unik ini dikreasikan pasangan suami istri (pasutri), Tutut dan Suryanto, asal Jalan  Kemloso, Dusun Kebunsari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring.

Jika biasanya telur asin direbus, kini diolah dengan dibakar. Rasanya bisa dibayangkan. Gurihnya lebih menggigit. Telur asin juga kaya manfaat. Seperti, membantu pertumbuhan sel baru, menjaga kesehatan tulang,  mencegah gejala anemia, asupan energi yang tinggi hingga menjaga kesehatan mata.  ” Kita ingin membuat kreasi baru telur asin. Namun, tetap alami dengan rasa lebih gurih dengan dibakar,” kata Tutut kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Pemilik “Azka” telur asin ini menambahkan telur asin bakar buatannya merupakan pertama kali di Banyuwangi. Ide ini berawal dari pengalaman membuat telur asin dengan direbus. Bermodal Rp 10 juta, pasutri ini sempat jatuh bangun menjalankan usaha telur asin. Berkat keuletannya, mereka berhasil menciptakan telur asin berkualitas. Rasanya gurih, masir. Tak heran, jika telur asin buatannya laris manis di pasaran.

Dari telur asin rebus, Tutut menemukan ide membuat telur asin bakar. Seluruh bahannya alami. Tanpa pengawet. Bahan telur bebek dipilih yang berkualitas. Proses pembakaran telur juga murni alami. Seluruh alatnya manual. ” Pasokan telur bebek kami ambil langsung dari peternak, pakannya terbaik. Jadi, kualitasnya terjamin dan masih baru,” jelasnya. Telur yang dipilih kata dia berwarna orange .

Usaha yang berawal dari coba- coba, menggunakan resep turun temurun ini sekarang menjadi penghasilan utama. Telur asin bakar berwarna hitam mengkilat. Rasanya sangat gurih. Kini, Tutut memiliki 5 karyawan untuk membantu usahanya. Menurutnya, proses pembuatan telur asin bakar hanya membutuhkan waktu 24 jam. Waktu lama ini untuk mendapatkan kelezatan rasa maksimal. Sedangkan proses pengasinan membutuhkan waktu 9-10 hari. Garam yang digunakan tak sembarangan, benar-benar berkualitas nomor satu. Sedangkan proses oven membutuhkan waktu sekitar 4 jam. ” Kami menggunakan bahan bakar serbuk gergaji. Kayunya juga pilihan agar warna telurnya bagus,” jelasnya. Suhu pembakaran juga diatur. Tujuannya, agar telur tak pecah jika terlalu panas. Sekali pembakaran bisa mencapai 800-900 butir telur. Setelah telur matang, lalu dikeluarkan, dikemas. Setiap kemasan berisi 6 butir telur. Harganya dibandrol Rp 24.000 per bungkus. Jika membeli partai besar, pihaknya memberikan harga grosir, hanya Rp 18.000 per bungkus.

Menurut Tutut, telur asin bakar menjadi salah satu ikon Banyuwangi. Banyak produknya dipasarkan lewat pusat oleh-oleh dan restoran. Telur bakar juga dikirim ke Bali, Lombok dan Kalimantan sebagai oleh-oleh.

Untuk memanjakan konsumen, pihaknya melayani jasa antar. Syaratnya, pembelian dengan kapasitas tertentu. Setiap harinya, Tutut bisa menjual  lebih dari 1000 butir telur asin bakar. Omzet usahanya tembus Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

Dahulu, Tutut harus berburu telur bebek hingga ke Situbondo. Kini, pasoka telur melimpah di Banyuwangi. ” Kami mengutamakan rasa yang alami. Sebab, prosesnya juga alami,” ungkapnya. Pihaknya berharap ada bantuan peralatan modern agar proses produksi bisa lebih cepat. Termasuk, bantuan modal. Sebab, usaha ini bisa membantu pemberdayaan masyarakat. (ida)