(bisnissurabaya.com) – Salah satu faktor yang menghambat percepatan pengembangan ekonomi syariah, adalah masih cukup rendahnya pemahaman masyarakat mengenai konsep dan produk ekonomi/keuangan syariah. Sehingga mayoritas nasabah lembaga keuangan syariah masih berada dalam segmen rational market. Hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah tergolong dalam tipe sharia loyalist.

‘’Permasalahan klasik yang masih menjadi stigma masyarakat itu secara umum dalam memandang perbankan syariah ini yang terjadi masalah prosedur yang cukup berbelit dan memakan waktu yang tidak sebentar, pricing yang dirasa lebih mahal dibandingkan dengan perbankan konvensional, dan kualitas SDM yang dirasa masih belum cukup meyakinkan dalam menjelaskan akad-akad perbankan syariah sehingga terkesan tidak jauh berbeda dengan akad yang dimiliki bank konvensional,’’ kata Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah, kepada Bisnis Surabaya.

Sementara penguasaan pasar ekonomi keuangan syariah atau perbankan syariah di Jatim masih rendah, walaupun pertumbuhannya besar. Share nya sekitar 4,8 persen sampai 5,3 persen, dengan jumlah rekening sekitar 23,9 juta. “Masih terkesanya indikasi bahwa jasa keuangan khususnya perbankan oleh sebagian besar masyarakat hanya sebatas dilihat sebagai perbandingan pricing dengan perbankan konvensional. Dimana perbankan syariah sering terkesan kurang kompetitif, endingnya menyebabkan pangsa perbankan syariah dalam industri perbankan nasional sulit tumbuh secara signifikan,” sambung Direktur Bank Indonesia Herawanto.

Untuk membangun stigma itu pada masyarakat diperlukannya edukasi dan sosialisasi yang lebih intensif tentang perbankan syariah. “Agar jumlah sharia loyalist semakin meningkat dan tercermin dalam peningkatan volume usaha. Jumlah rekening pembiayaan dan perbaikan kinerja perbankan dan lembaga keuangan syariah akan membaik,” ujarnya.

Padahal ada banyak pasar potensial di Jatim. Di Jatim ada sekitar 6.003 pesantren, dengan santri sekitar satu juta orang. Ada sembilan bank umum syariah, 89 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS), dua modal ventura syariah, Pegadaian Syariah, dan dua leasing syariah. “BI bersama Pemprov Jatim akan mendorong terus pertumbuhan ekonomi keuangan syariah,” katanya.

Komitmen Pemprov Jatim, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi keuangan syariah sangat baik. Karenanya, pertumbuhannya cukup signifikan. Selain melibatkan beberapa kalangan yang dinilai memiliki peranan penting bagi pengembangan ekonomi syariah, diantaranya ustadz/dai, para pimpinan pondok pesantren, praktisi perbankan syariah, dan kalangan pengusaha, dengan berbagai kultur dan latar belakang usaha.

Bertujuan, meningkatkan pemahaman stakeholder ekonomi syariah Jawa Timur dalam memahami ekonomi dan keuangan syariah dari sisi teori dan praktek, sehingga terlihat jelas perbedaan jelas antara konsep ekonomi syariah dan konsep ekonomi konvensional. “Keselarasan pemahaman dan pola pikir antara sesama stakeholder ekonomi syariah untuk mendukung adanya aksi atau bentuk nyata terhadap dukungan stakeholder dalam pengembangan dan akselerasi ekonomi syariah Jawa Timur,” pungkasnya. (ton)