Banyuwangi,(bisnissurabaya.com) – DI BALIK tampilannya yang menjijikkan, budidaya cacing menyimpan prospek bisnis cerah. Tak sedikit, orang sukses menekuni usaha ini. Wajar jika kini banyak yang menjadikan usaha ini sebagai ladang bisnis baru. Salah satunya Abu Darin. Pensiunan PNS memilih mengisi masa purnatugas  dengan menekuni budidaya cacing. Di rumahnya di Dusun Sumbersuko, Desa Kesilir, dia merintis usaha. Bapak enam cucu ini merintis usaha sejak tahun 2015. “Saya mengawali usaha dari lima kilogram benih,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Jenis cacing yang dibudidayakan adalah lumbricus rubellus. Jenis cacing ini memiliki siklus perkembangan lebih cepat ketimbang jenis cacing lain. Ide usaha ini dari sang teman di Bojonegoro. Menurutnya cacing ini selain mudah dalam perawatan, juga mudah dikembangkan. Bahkan untuk pakan, tak perlu mengeluarkan biaya mahal. “Untuk pakan, bisa ampas tahu, batang pisang dan kotoran sapi,” ucapnya.

Di awal usaha, Abu tak mengeluarkan banyak modal. Hanya Rp 250.000 untuk biaya membeli benih. Media yang diperlukan dalam budidaya pakan adalah cocopit yang ditempatkan dalam wadah kotak kayu. Untuk menyiasati sedikit modal, Abu memilih membuat sendiri kotaknya. Untuk tempat, dia manfaatkan bekas kandang kambing di belakang rumahnya. Yang diperlukan, kotak cacing ini harus ditempatkan di kawasan lembab atau tak terkena sinar matahari langsung.

Satu kotak di isi satu kilogram benih. Setelah sebulan dilakukan pemisahan kotak. Dari satu kotak menjadi dua kotak. Kini setelah dua tahun, Abu sudah memiliki 300 kotak. Sebenarnya kata Abu dengan jumlah tersebut, masa panen bisa dilakukan per minggu. Tapi, lantaran terlalu sedikit dia memilih melakukan panen satu bulan sekali sebanyak 1,2 -. 2 kuintal per bulan. Harga cacing Rp 20.000 per kilogram. Kini, per bulan dirinya bisa meraih omzet Rp 4 juta.

Menurutnya, proses memberikan pakan ini tak dilakukan tiap hari. Tapi,  empat hari sekali. Karena itu, tak menguras waktu dan tenaga. Sehingga usaha ini cocok dijadikan sebagai usaha sampingan.

Diakui Abu, awalnya banyak orang enggan bersentuhan dengan cacing lantaran dianggap menjijikkan. Tapi, setelah merasakan hasilnya, justru banyak orang tergiur dengan si kulit licin ini.

Hasil panen sudah ada orang dari luar Banyuwangi yang siap membeli. Menurut Abu, cacing ini digunakan sebagai pakan ikan. Sehingga diuru  pelaku usaha tambak. Khususnya udang. Abu Darin tak sendiri. Kini banyak warga sekitar tertarik merintis usaha serupa. Bahkan mereka tergabung dalam komunitas peternak cacing. Kini beranggota 25 peternak. Melalui wadah inilah warga bisa membeli benih atau menjual hasil panen. Para anggota secara rutin diberikan pelatihan dan evaluasi budidaya. Menurutnya permintaan cacing ini sangat tinggi. Mencapai 2 kuintal per minggu. Namun, dirinya bersama anggota kelompok belum bisa memenuhi lantaran hasil panen baru mencapai 3,5 kuintal per bulan. Sehiangga peluang usaha ini masih terbuka lebar. Kini, Abu lebih optimis dalam menekuni usaha ini. (tin)