Ngawi,(bisnissurabaya.com) – Spektakuler agenda Ganti Langse diselenggarakan kembali oleh Disparpora Ngawi. Upacara ini sudah menjadi kegiatan rutinitas tiap tahun, uri-uri budaya dan sebagai kekayaan wisata bumi Kabupaten Ngawi.

Upacara ini tidak sekedar upacara tapi beberapa rangkaian mengikuti prosedur upacara yang sangat sakral. Dari malam sebelum agenda dilaksanakan pagelaran ketoprak, wayang dalang cilik dan lainnya.

Pagi hari selasa 3 Oktober 2017 pembukaan ganti langse diawali dengan penyerahan kain selambu mori warna putih bersih sepanjang 15 meter. Selambu mori itu diserahkan oleh Mbah Marji juru kunci Alas Ketonggo kepada tokoh masyarakat yang diwakili Dwi Riyanto Jadmiko,SH Ketua DPRD Kabupaten Ngawi didampingi Camat Setiyono, Kabid Kebudayaan Disparpora Ngawi Sukadi, Kasi Kebudayaan Sulistyono dan disaksikan masyarakat dan pengunjung dari manca desa dan kota.

Kemudian dilanjutkan kirap budaya atau arak-arakan yang membawa gunungan berhias segala sayur mayur dan buah-buahan, dibagi-bagi untuk masyarakat. Gunungan ini menggambarkan pangan tanah bumi Kabupaten Ngawi gemah ripah loh jinawi dan kerukunan susah senang dinikmati bersama.

Jeda waktu sesaat menunggu waktu gelap dan sang bulan muncul indah sempurna atau disebut bulan purnama.  Dilanjutkan sajian Tari Bedoyo Srigati yaitu tarian sakral yang  menjadi tarian upacara adat pada waktu Ganti Langse spiritual Pesanggrahan Srigati. Dan disajikan ada jamuan tamu yang berkunjung di Ngawi.

Tarian ditampilkan paling sedikit 10 penari yang semua harus masih gadis. Ritual selanjutnya ‘Slametan’ dipimpin pemangku adat setempat.Isi makanan berupa tumpeng, urap-urap, bubur sengkolo, bubur merah putih, serta aneka ragam polo pendem. Semua ini mempunyai maksud dan tujuan. Dilanjut penggantian mori penutup singgasana Brawijaya V hingga selesai.

Ketua DPRD Dwi Riyanto Djadmiko mengharapkan  untuk kegiatan ganti langse tahun depan bisa lebih ramai seperti di solo. Kendala mungkin belum banyak di dengar oleh para wisatawan.

Kasi Kebudayaan Disparpora Sulistyono menyampaikan,mulai kemarin sore diadakan pentas campursari dilanjut ketoprak. Kemudian   paginya diadakan ruatan masal dan setelah tengah hari kirap budaya ganti langse. Bertepatan dengan Ngawi visit year 2017  di srigati dilaksanakan spektakuler, harapan mendatangkan wisatawan mancanegara juga lokal, wisatawan untuk hari lain bisa menikmati wisata spiritual, jadi srigati tempat wisata khusus spiritual.

Kades Joko Setiyono menambahkan  kegiatan upacara ruat ganti langse sudah menjadi rutinitas dilakukan sebagai adat daerah desa. Sehingga  upacara sakral melibatkan seluruh pejabat desa, masyarakat dan tamu undangan serta pengunjung. “Kegiatan ini selain upacara adat juga uri-uri budaya, yang perlu dilestarikan, memang di tempat ini mengandung nilai sejarah dari leluhur,” tandas Joko. (eko)