Tiban, Ritual Tegang Minta Hujan

151

Blitar,(bisnissurabaya.com) – Dampak kekeringan di musim kemarau tahun ini, sangat dirasakan oleh sebagian masyarakat di Blitar, Jawa Timur. Khususnya di wilayah Blitar bagian selatan. Hampir semua sumber mata air di belasan desa yang menyebar di 5  Kecamatan, mengalami kekeringan.

Untuk mengharapkan segera turun hujan, berbagai cara permohonan pada Tuhan telah dilakukan. Mulai dari Sholat Istisqo, do’a bersama, dan lain sebagainya.

Termasuk menggelar tradisi kuno tinggalan para leluhur. Orang Blitar menyebutnya tradisi Tiban. Tradisi ini, boleh dikata sangat menegangkan. Bahkan mengerikan. Karena trasdisi ini saling adu cambuk dengan ikatan sapu lidi yang diarahkan ke tubuh lawan. Bila terkena sabetan, bukan saja memar. Tapi terluka dan mengeluarkan kecuran darah segar.

“Semakin banyak darah yang dikeluarkan, itu pertanda bagus. Berarti dalam waktu dekat kami yakin segera turun hujan,” ujar Sukardi salah satu peserta Tiban.

Sukardi menjelaskan, tradisi tiban ini digelar khusus setiap musim kemarau berkepanjangan.  Tradisi ini diyakini ampuh oleh sebagian orang, sebagai sarana permohonan hujan pada Tuhan. Caranya saling adu cambuk antar jawara dengan menggunakan ikatan sapu lidi yang disiapkan panitia.  Lho, apa nggak sakit? Ya, sakit,.Tapi sedikit. Hanya panas sebentar setelah dikasih obat, sembuh,” kata Sukardi salah satu jawara asal Blitar.

Menurut Sukardi, tadisi Tiban ini layaknya pertandingan tinju. Terdiri dari dua penantang dan diatur oleh  satu wasit. Kedua penantang ini sama-sama dibekali satu ikat lidi kemudian  dicambukkan sekeras-kerasnya ke tubuh lawan. Masing-masing jawara memiliki tiga ksempatan mencabuk musuhnya. Dan setiap cambukan selalu diakhiri dengan jogetan.

Untuk menghindari resiko, masing-masing jawara dilarang keras mencambuk bagian kepala dan alat kelamin. Di luar itu, bebas. Selesai berlaga diatas ring, kedua jawara ini diwajibkan saling berjabat tangan dan berpelukan. “ Selesai ya, selesai. Tidak ada permusuhan apalagi dendam. Karena tujuan kami sama, ritual minta  turun,” jelas lelaki yang tubunya penuh luka akibat sabetan sapu lidi lawan.

Uniknya, sesaat usai tradisi ini digelar, entah kebetulan atau tidak, tiba-tiba cuacanya mendung. Meskipun saat itu belum turun hujan. “Mudah-mudahan saja, doa kami dikabulkan. Dalam waktu dekat segrera turun hujan,” ujar lelaki berbadan kekar ini penuh harap. (rul)