Banyuwangi,(bisnissurabaya.com) – UBI rambat, belakangan jenis tanaman ini mulai dilirik petani untuk dibudidayakan. Selain mudah dalam hal perawatan, masa panen yang cepat, serta hasilnya menggiurkan, membuat banyak petani melirik menanam ubi rambat.

Budidaya ubi rambat sudah dilakoni Manan sejak 18 tahun silam. Berawal dari buruh cangkul, Manan mencoba bertanam ubi rambat. “Saya coba menanam ubi kali pertama bermodal Rp 1,5 juta,” kisah pemilik usaha “Dunia Ubi” ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Ternyata, hasilnya menggiurkan. Dari situ, Manan kian memperluas lahan penanaman sampai merambah ke usaha pengiriman.  Kini, puluhan petani ubi rambat di kawasan Banyuwangi menjadi relasinya.

Ada beberapa jenis ubi rambat yang dia kembangkan bersama petani ubi rambat di Banyuwangi. Seperti ubi wortel. Warna dagingnya yang kuning, seperti wortel membuat ubi rambat satu ini dinamakan ubi wortel.

Selain warnanya menggoda, ukurannya pun besar. Bahkan per biji bisa mencapai berat 1 kilogram.  Selain ubi wortel, beberapa jenis ubi rambat yang dikembangkan petani, ubi malam, ubi ungu, ubi keprok, ubi kuning rohana, ubi oranye madu, manohara dan ubi ase.

Di rumahnya di Dusun Mangkli, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, menjadi sentra usaha pengiriman ubi rambat. Permintaan ubi rambat ini kata Manan datang dari berbagai kota. Seperti Malang, Surabaya,Yogyakarta dan Bali. Per hari, Manan bisa mengirim sebanyak 8 ton ke berbagai kota. “Khusus Bali, tiap hari kami bisa mengirim 15 ton ubi rambat,” ucapnya.

Tak hanya dalam negeri, permintaan ibu rambat ini juga tembus ke berbagai negara. Salah satunya Singapura. Selain Singapura, permintaan ubi ini sempat datang dari Inggris. Tapi, lantaran masa pengiriman yang perlu waktu lama, pihaknya belum bisa melayani. Kini, masih sebatas ekspor ke Singapura. Per minggu, Manan bisa melakukan pengiriman ubi rambat jenis ubi wortel ke Singapura sebanyak 7 ton.

Dalam melakukan usahanya, Manan dibantu 25 tenaga kerja. Dia membeli ubi rambat dari tangan petani. Biasanya, dalam menjual hasil panen, petani tinggal terima bersih. Tak perlu repot turun ke sawah. Karena sudah ada tenaga yang siap memanen, membawa hasil panen dari sawah sampai membersihkan ubi dan pengemasan.

Sejauh ini kata Manan, hasil dari bertanam ubi rambat masih menjanjikan. Selain mudah dalam hal perawatan, kata Manan, masa budidaya ubi rambat tergolong singkat. Hanya, dua bulan, petani sudah bisa panen. Jenis tanaman ini juga tak mengenal musim. Ubi rambat cocok dikembangkan di lahan gembrung.

Biaya produksi per satu hektar lahan Rp 18 juta. Dengan omzet Rp 40 juta per hektar, petani bisa mendapat untung bersih Rp 20 juta per hektar per sekali tanam. Dengan harga ubi rambat paling rendah Rp 3.000 per kilogram. Sementara kini, harga ubi rambat, berkisar Rp 4.000 per kilogram. (tin)