Pertamina ‘Berdalih’ Tak Batasi Stok Premium

169

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Sejak peluncuran pertalite, Pertamina mulai mendorong masyarakat memakai bahan bakar dengan kadar oktan tinggi seperti pertamax (RON 92), pertamax plus (95), dan pertamax turbo (98). Pertalite dikenalkan Pertamina sebagai langkah transisi bagi pemakai bensin premium.

Selain membatasi jatah premium, Pertamina mengurangi nozzle atau selang dispenser di pom bensin atau SPBU. Pengurangan selang dispenser premium terjadi di banyak SPBU. Selain pembatasan dan pengurangan selang dispenser premium, Pertamina mengenalkan papan harga SPBU “Pasti Prima”.

Papan itu berwarna biru mencolok, dengan kepala papan berwarna putih perak, dan logo “Pasti Prima” berwarna merah. Papan harga ini berbeda dari papan SPBU “Pasti Pas”. Papan “Pasti Prima” tak mencantumkan produk premium. Cuma ada produk pertamax turbo, pertamax, pertalite, dan Pertamina Dex. Kalaupun ada, produk premium cuma dalam bentuk teks berjalan untuk mengurangi faktor keterlihatan.

Papan lama SPBU “Pasti Pas” pun dipermak ulang agar produk premium dihilangkan. Bagi segelintir pengusaha pom besin, demi mengurangi ongkos membeli papan baru “Pasti Prima”, mereka menghilangkan nama produk premium dengan menempel stiker produk baru Pertalite.

Melihat langkah-langkah Pertamina mengurangi stok premium ini sejalan rekomendasi dari Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang diketuai ekonom Faisal Basri. Kehadiran produk pertalite sebagai jembatan untuk menuju bahan bakar pertamax. Perbedaan harga antara pertalite dan pertamax tak terlalu jauh. Sehingga, dengan sendirinya konsumen akan beralih kebahan bakar dengan kadar oktan 92.

Area Manager Communication & Relations Jatim Balinus, Rifky RY Bengky, membantah bahwa konsumsi premium yang menurun lantaran ada beragam langkah Pertamina membatasi jatah premium di SPBU. Ia mengklaim, konsumsi premium menurun akibat pola konsumsi bahan bakar yang berubah pada masyarakat. Bukan karena faktor intervensi Pertamina. Bahwa dari stok dan supply sebenarnya tak dibatasi.

“Ini memang sedikit orang memahami bahwa sebetulnya tak ada ide mengurangi premium atau membatasi premium,” katanya. “Cuma ada pola konsumen baru yang lebih senang dengan BBM lebih bagus, konsumen saat ini lebih cerdas,” imbuh Rifky. Disisi lain, penjualan bahan bakar berkualitas tinggi, terutama jenis pertamax serta diesel jenis dexlite dan Pertamina Dex, meningkat cukup signifikan.

Penjualan BBM berkualitas jenis pertalite selama Januari-Juli 2017 meningkat 363,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan pertalite menjadi wajar belaka ketika seluruh cara dilakukan Pertamina untuk mendorong masyarakat memilih bahan bakar pertalite. Apalagi marjin keuntungan pertalite yang ditawarkan Pertamina ke SPBU lebih besar dibandingkan premium. Saat ini selisih laba premium sekitar Rp 200, sementara untuk Pertalite sekitar Rp 300.

Rifky, membantah, Pertamina mengatur pengurangan selang dispenser premium. “Penggantian nozzle di SPBU dilakukan pihak manajemen SPBU sendiri,” kilahnya. Begitu pula pengenalan papan harga SPBU “Pasti Prima” untuk mengganti papan harga lama “Pasti Pas”. ” Dari sisi Pertamina, disaat pemerintah menekan nilai subsidi kok jadi ramai,” ungkapnya.

Meski menjanjikan kepada Tim Reformasi Tata Kelola Migas bahwa Pertamina bakal menghapus premium dalam jangka dua tahun sejak 2015, namun Rifky, berkata bahwa kebijakan subsidi menurut arahan pemerintah. “Belum ada pemikiran untuk menghapus subsidi premium, mungkin pemerintah mengalihkan subsidi kebentuk lain yang menyentuh masyarakat,” imbuhnya.

Ia menyampaikan agar masyarakat tenang, karena Pertamina siap memenuhi permintaan konsumen. (lely)