Konsep Triple Bottom Line (TBL) & Bukan Kejar Keuntungan Semata

1119

(bisnissurabaya.com) – Pemahaman dan kepedulian tentang isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan serta kebijakan dan praktik pembangunan berkelanjutan telah menarik banyak perhatian dan perdebatan dalam 20 tahun terakhir. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelaporan informasi ekonomi, sosial, dan lingkungan menghasilkan keunggulan dalam hal keuangan, jaminan, pemasaran, pemenuhan regulasi, dan lainnya yang merupakan tantangan dalam ekonomi global. Perusahaan harus menerapkan asas pembangunan yang seimbang melalui pengungkapan penggabungan tiga aspek tersebut dalam sebuah laporan yang dinamakan laporan keberlanjutan. Laporan keberlanjutan juga dikenal sebagai laporan Triple Bottom Line (TBL) atau Triple P (People, Planet dan Profit).

Laporan keberlanjutan disusun berdasar teori triple bottom line yaitu evaluasi kinerja suatu perusahaan dilakukan melalui kombinasi aspek pengungkapan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Pelaporan keberlanjutan ini berpotensi memberikan informasi penting untuk analisis bisnis yang tidak dilaporkan dalam laporan keuangan. Informasi ini melengkapi laporan keuangan dengan ulasan berwawasan ke depan sehingga dapat meningkatkan pemahaman pengguna laporan seperti informasi human capital, tata kelola perusahaan, manajemen resiko dan hutang, serta kemampuan berinovasi.

Dalam hukum nasional, Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup salah satu instrumen dalam upaya pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan adalah instrumen ekonomi lingkungan hidup di samping instrumen command and control dan instrumen pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan undang-undang tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan terbaru OJK Nomor 51/ POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik untuk mengembangkan dan menerapkan instrumen ekonomi lingkungan hidup termasuk di dalamnya adalah kebijakan yang peduli kepada sosial dan lingkungan hidup di bidang perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank. Sehingga pelaporan keberlanjutan menjadi wajib bagi perusahaan di bidang perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank.

Sehingga konsep tripple bottom line (TBL) tidak semata mata fokus kepada target profit oriented (keuntungan semata). Konsep ini juga mengindikasikan prioritas utama perusahaan pada kepentingan stakeholder, ini menyangkut semua instrumen yang terlibat dalam perusahaan. Jika dibedah, People berimplikasi kepada aplikasi bisnis yang mendukung kepentingan tenaga kerja. Termasuk melindungi dari berbagai resiko dan kemungkinan yang menghilangkan hak pekerja, misalnya upah minimum, lingkungan kerja yang sehat, hak cuti dan lain lain., termasuk upaya upaya untuk mengembangkan dan mengup-grade kualitas SDM, baik bidang pendidikan maupun kesehatan tenaga kerja. Planet berarti memiliki tingginya awareness terhadap kondisi lingkungan, terutama yang berkaitan dengan konsumsi energi dari sumber daya alam yang sudah semakin langka dan tidak bisa diperbarui, mengelola secara cerdas limbah produksi terutama CO2 dan didaur ulang untuk menjadi produk yang ramah lingkungan. Kegiatan yang selama ini mampu dilakukan dengan baik dan sukses oleh The Body Shop dan diikuti oleh Starbuks dengan program Coffee and Farmer Equity (CAFE) upaya mengolah dan mengolah kopi dari rantai petani sampai gerai kopi dengan tingkat awareness yang tinggi terhadap dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Program yang juga sudah diikuti oleh perusahaan produksi makanan cepat saji Burger King, Unilever, produsen susu Nestle dan keju Kraft Foods.

Sementara Profit di sini, fokus dan aktifitas perusahaan tidak semata mata mengejar keuntungan. Tetapi lebih berfokus kepada upaya menciptakan fair trade dan ethical trade praktik bisnis yang fair dan beretika. Pada tahap-tahap awal, upaya ini akan menyedot biaya yang sangat tinggi, apalagi beberapa perusahaan menerapkan model peduli lingkungan ini untuk meredam tingginya gejolak masyarakat di sekitar lingkungan perusahaan yang menerima dampak langsung dari limbah. Konsep Triple Bottom Line (TBL atau 3BL) yang dikenalkan pertama kali oleh John Elkington pada tahun 1988 memperkenalkan konsep Triple Bottom Line (TBL atau 3BL), People, Planet and Profit yang merupakan pilar utama yang menjadi tolak ukur kesuksesan suatu perusahaan melalui tiga kriteria utama, yakni: ekonomi, lingkungan, dan sosial. Konsep TBL ini banyak diaplikasikan perusahaan perusahaan swasta dalam model kegiatan yang mengacu kepada penerapan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility/CSR). Konsep sosial serta upaya untuk bisa mengkonvergensikan target perusahaan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan sudah seharusnya menjadi bagian dari strategi perusahaan dan tidak bisa terpisahkan. Apakah perusahaan Anda sudah mengaplikasikan praktik TBL secara ideal?