(bisnissurabaya.com) – Penggunaan Big Data sangat penting bagi bank sentral untuk kebutuhan sumber data. Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemanfaatan Big Data yang disertai kolaborasi lintas institusi, baik pemerintah, lembaga negara, akademisi maupun industri dapat menghasilkan informasi yang berharga dalam pengambilan keputusan.

Big Data merupakan sumber data yang ukuran, keragaman, dan kompleksitasnya membutuhkan teknik serta algoritma analitik tertentu untuk mengelola, mengambil manfaat dan pengetahuan yang tersembunyi di dalamnya.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia, Yati Kurniati mengatakan bahwa Big Data diperlukan karena terdapat beberapa kebutuhan data yang tidak dapat dipenuhi secara cepat dengan menggunakan sumber data dan metode konvensional.

“Dimana Big Data adalah salah satu sumber data untuk statistik. Untuk primary data berasal dari laporan bank dan non bank, serta survei. Sementara secondary data berasal dari eksternal, seperti data administratif, berita dan sosial media, fintech dan e-commerce, portal online, internet search data,satelitimages dan mobile location,” terang Yati ketika dihubungi.

Dengan kata lain, area pemanfaatan Big Data dilakukan pada market and investor behaviornetwork analysis, data lag dan public perception. Selain, pemanfaatan Big Data juga sejalan dengan transformasi BI 2024 yang salah satu temanya yakni mendorong BI untuk memanfaatkan teknologi dan pendekatan mutakhir untuk mencapai visi dan misinya.

Big Data diharapkan mampu memperkuat proses pengambilan keputusan di sektor moneter, stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaran-peredaran uang rupiah (SP-PUR) melalui peningkatan kualitas data dan analisis,” ujarnya.

Inisiatif pemanfaatan Big Data ini, lanjut ia, telah dilakukan BI sejak 2014 melalui pengembangan sejumlah proyek Big Data yang beberapa hasilnya telah digunakan dalam proses perumusan kebijakan BI.

Big Data telah digunakan dalam membantu pengambilan kebijakan. Oleh beberapa pemerintah daerah, pemanfaatan Big Data telah diwujudkan dalam bentuk penerapan kota cerdas (smart city), yang bertujuan mengelola dan mengendalikan sumber daya secara lebih efektif dan efisien guna memaksimalkan pelayanan publik.

Selain lembaga publik, Big Data pun menjadi salah satu acuan di berbagai sektor industri. Di sektor lembaga keuangan, pemanfaatan Big Data telah digunakan secara aktif dalam peningkatan layanan terhadap nasabah serta mendeteksi maupun mencegah penipuan (fraud). Di sektor perdagangan dan transportasi, khususnya yang berbasis digital, Big Data juga telah dimanfaatkan secara intensif untuk meningkatkan transaksi dan memperluas target pelanggan baru.

“Ke depan, hasil Big Data yang sudah teruji di BI diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas oleh publik sebagai pelengkap indikator ekonomi dan keuangan,” katanya.

Saat ini sudah ada beberapa pilot project BI yang dilakukan dengan memanfaatkan Big Data . Misalnya proksi indikator ketenagakerjaan, proksi indikator pasar properti, prioritisasi risiko sistemik, mapping prilaku dan proyeksi aliran dana asing di pasar SBN.

Big Data ini diharapkan dapat menjadi embrio terciptanya kolaborasi yang erat antar berbagai elemen institusi di masyarakat dalam pemanfaatan Big Data. Pemanfaatan Big Data yang baik diharapkan dapat mengoptimalkan potensi digital Indonesia yang sangat besar dan turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan begitu kita bisa men-tracking bagaimana perkembangan yang terjadi. Misalnya pada pasar properti, bisa lihat bagaimana perkembangan pasar sekunder properti lokasi mana saja yang tumbuh tinggi, dan kota mana di Jawa yang pertumbuhan tertinggi,” pungkasnya.(ton)