Banyuwangi,(bisnissurabaya.com) – SATU lagi, komiditi hortikultura mulai “booming” di Banyuwangi. Yakni, cabe jamu. Harga komiditi ini lumayan menggiurkan. Per kilogram bisa tembus Rp 30.000 hingga Rp 60.000. Meski sempat turun, harga cabe jamu cenderung menggiurkan. Cabe jamu banyak dikembangkan para petani di kawasan Pesanggaran. Mereka menanamnya dengan sistem tumpangsari bersama buah naga.

” Harga cabe jamu cenderung stabil. Meski turun, harganya tetap terbilang mahal,” kata Murkamto, salah satu petani cabe jamu di Dusun Krajan, Desa/Kec. Pesanggaran, Banyuwangi usai menerima bantuan benih cabe jamu dari PT BSI, pekan lalu.

Pembina Kelompok Tani Cabe Jamu “Rukun Makmur” ini menambahkan komoditi cabe jamu menjadi andalan petani di daerahnya. Sebab, hasilnya menggiurkan. Proses penanaman dan perawatan tanaman sangat mudah. Tak perlu pupuk kimia. Sehingga, meski harga kerap anjlok, petani masih bisa merasakan keuntungan. ” Harga tak pernah murah. Karena komoditi ini sebenarnya berkualitas ekspor,” ujarnya. Cabe jamu kata Murkamto mulai dikembangkan petani sejak dua tahun terakhir. Jumlah petani juga terus bertambah. Mereka memanfaatkan sistem tumpangsari di sela tanaman buah naga. Dari masa tanam, setelah umur 8 bulan, cabe jamu sudah bisa dipanen. Bisa dipanen 10 hari sekali. Rata-rata petani memiliki sekitar 20 lajar (penyangga) tanaman cabe jamu. Dari jumlah ini, bisa menghasilkan sekitar Rp 5 kilogram cabe jamu sekali panen.

Petani juga mengembangkan pembibitan. Namun, kerap terganjal teknologi. “Kami senang mendapat bantuan 5000 bibit dari investor tambang emas PT. BSI. Sebab, harganya lumayan mahal. Per batang sekitar Rp 15.000,” jelasnya. Dengan 5000 bibit baru bisa, pihaknya menyiapkan sekitar 2 hektar lahan. Dikelola 13 petani, seluruhnya juga petani buah naga. Selama ini, cabe jamu banyak diburu pengepul. Sehingga, petani tak kesulitan pemasaran.

Sementara itu, Manager External PT BSI Bambang Widjonarko mengatakan cabe jamu menjadi komoditi baru petani di sekitar ring satu tambang emas Tumpangpitu. Karena itu, melalui program CSR bidang ekonomi, pihaknya mengajak petani naga mengembangkan cabe jamu. ” Cabe jamu bisa panen sepanjang tahun. Jadi, ketika buah naga tak panen, petani masih bisa panen cabe jamu,” ujarnya. Harapannya, cabe jamu menjadi komoditi andalan baru selain buah naga. (udi)