(bisnissurabaya.com) – Bus sekolah yang kutunggu-kutunggu tiada yang datang. Mulai Senin (17/7) siswa-siswi sekolah mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK) masuk sekolah. Setelah libur 30 hari lebih saat ramadhan hingga lebaran yang lalu, kita akan menemukan di jalan-jalan anak berseragam sekolah berseliweran. Yaaa….., waktunya masuk sekolah. Kebutuhan perlengkapan sekolah tentu sangat tinggi saat tahun ajaran baru, termasuk seragam sekolah. Karena itu, sejumlah pedagang pakaian sekolah di pasar tradisional, mall maupun pedagang kaki lima (PKL) panen. Salah satu pengusaha konveksi dari Surabaya, Djulaicha, mengaku mengalami kenaikan permintaan mencapai 100 persen dari hari biasa.

Djulaicha, merupakan generasi kedua yang menekuni usaha keluarga secara turun temurun sejak 1975. Dengan merek AA Fashion, ibu dari enam orang putra tersebut mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan, menguasai peta bisnis seragam sekolah mulai dari Sabang sampai Merauke.

“Paling banyak Ambon. Pertama orangnya datang sendiri kesini, selanjutnya mereka tinggal transfer dan barang kami kirim,” kata Owner AA Fashion, Djulaicha, saat disambangi Bisnis Suarabaya di stannya di Pasar Grosir Surabaya (PGS) terlihat sibuk melayani pembeli. Ia menerima order terbanyak dari wilayah kepulauan luar Jawa. Diantaranya Kupang, Ambon, Balikpapan, dan Samarinda. Permintaan mereka hampir stabil sepanjang tahun.

Sedang untuk wilayah Jawa, omset tertinggi diraih sejak Juni hingga Agustus. Permintaan terbanyak berupa seragam TK dan PAUD. “Luar pulau setahun full permintaan selalu ada. Paling banyak seragam SD dan SMP. Karena kapal itu satu bulan dua sampai tiga kali pengiriman. Kira-kira dalam seminggu empat kali ke Ambon. Balikpapan dan Timur Kupang non stop mulai awal sampai tahun ajaran baru,” imbuh wanita cantik kelahiran Surabaya, 5 April 1965 tersebut.

Djulaicha, mampu bertahan dan konsisten terjun dibisnis ini berkat ketekunan dan ketelatenan. Meski sempat mengalami pasang surut sejak lepas dari orang tua, Djulaicha, tak pernah patah arang. Ia mulai mandiri membangun kerajaan bisnisnya dibantu sang suami beserta putra-putrinya.

“Mulai mandiri sendiri sejak 1982. Waktu itu masih kontrak di Pasar Turi lama. Sejak terbakar, langsung pindah kesini,” terangnya. Wanita yang memiliki panggilan ‘Aa’ ini memiliki gudang konveksi khusus untuk mendesain hingga proses pengerjaan. Dibantu puluhan karyawan profesional, menghasilkan kualitas produk seragam yang bagus, tetapi harga tetap terjangkau. Desain pun selalu up to date, mengikuti perkembangan zaman.

Banyak pelanggan mempercayakan kebutuhan seragam sekolah maupun busana muslim disini. Menyediakan produk berbahan famatex, drill, hingga kain nagata. Harga pun beragam, kisaran Rp 75.000 – Rp 110.000. “Kalau tidak desain sendiri modelnya nggak bisa macam-macam,” ujar Djulaicha seraya menunjukkan beberapa koleksi seragam PAUD dan TK berbagai desain dan selalu ready stock.

Wanita murah senyum ini memiliki tujuh orang karyawan di area PGS lantai tiga, empat orang karyawan di Dupak Grosir. Total 11 toko ia miliki, tujuh di antaranya terletak di Pasar Turi Baru yang kini masih belum beroperasi karena kendala teknis dari manajemen Pasar Turi. AA Fashion yang sebelumnya mengusung merek “Bintang Jaya”, mulai buka dari pukul 09.00 – 17.00 WIB. Ratusan pelanggan harus sabar mengantri jika toko sangat ramai saat tahun ajaran baru seperti ini.

Salah satu pelanggan, Esti Noermasi, dari TK Tunas Harapan, menyatakan, setiap tahun ajaran baru selalu membeli seragam TK disini. ‘’Saya sudah menjadi pelanggan tetap AA Fashion, untuk membeli pakaian seragam murid saya disini,’’ kata Esti. Yang menarik, apabila pakaian seragam yang dibeli kebesaran atau kekecilan, dibolehkan untuk menukar sesuai dengan ukuran siswa. (lely)