(bisnissurabaya.com) – Pengalaman adalah guru paling berharga. Bermodal pengalaman sebagai atlet panahan, Eddy Roostopo, mendedikasikan hidupnya untuk panahan. Pria yang akrab disapa Popop ini membina pemanah-pemanah muda dan menjadi pembuat busur panahan tradisional.

Dalam rentang waktu tiga bulan 2017 ini, Popop sudah dua kali datang ke Bali. Yakni, 27 dan 28 Mei, ia memberikan workshop panahan tradisional (jemparingan) sekaligus mendampingi tim Semut Ireng Pop Archery Solo (SIPAS) berlaga di kejuaraan panahan tradisional dalam rangka HUT Pancer Langit. Tanggal 1 dan 2 Juli, ia datang untuk ikut turnamen panahan tradisional dalam rangka Festival Pelaut yang dilaksanakan Jepun Bali Traditional Archery di Istana Taman Jepun.
Disela-sela turnamen, pria asal Tawangmangu, Jawa Tengah (Jateng) ini menuturkan perjalanan hidupnya. “Keluarga saya dari kakek buyut, kakek, hingga ayah merupakan pemanah tradisional. Saya pun mengenal panahan sejak kecil tetapi mulai serius 1977,” kenangnya.

Popop pertama kali ikut lomba panahan tradisional diacara 17 Agustusan di Tawangmangu. Dari 36 peserta, ia berada di posisi paling buncit. Berkat didikan ayahnya ditambah kedisiplinan berlatih, ia mengalami peningkatan prestasi. Dilomba berikutnya, Desember 1977, Popop menjadi juara 1. Februari 1978, ia meraih juara tiga di daerah Jateng. Popop pun masuk tim Jateng untuk berlaga di Kejurnas di Surabaya 1980. Hasilnya, 2 emas dan 1 perunggu dibawa pulang.

Diajang PON X tahun 1981, Popop meraih 1 perak dan 1 perunggu. Empat tahun kemudian, saat PON XI, ia mencatat prestasi spektakuler. Popop meraih 2 emas (50 meter dan beregu), 1 perak (40 m), dan 2 perunggu (30 m dan total). “Saya memecahkan rekor nasional untuk target 50 m. Rekor yang sebelumnya 308 menjadi 315,” ujarnya. Ketika itu panahan tradisional dengan sasaran target merupakan cabor yang dilombakan di ajang PON sedangkan sasaran bandulan sebagai cabor eksebisi.

Setelah itu, tak terhitung lagi prestasi yang diraih ayah dua anak ini di cabang panahan tradisional. Semua ia kumpulkan di rumahnya di kompleks Sriwedari, Solo. Baginya, prestasi pemanah bisa mengalami naik-turun ibarat roda yang berputar. Semua harus dijalani dan dinikmati. Ketika berprestasi jangan terlalu bangga. Ketika kalah, jangan bersedih.

“Olahraga panahan itu memerlukan pengendalian emosi. Ketika latihan atau lomba, kita harus bisa mengendalikan emosi. Sedih dan gembira harus distabilkan agar kita bisa fokus memanah sasaran. Panahan itu tidak sekadar melepas anak panah. Tiap anak panah yang dilepas harus memberikan nilai. Jangan sia-siakan anak panah,” pesannya.

Sejak Dini

Popop pun berharap anak-anak dikenalkan panahan tradisional sejak dini. Hal ini penting untuk mengasah kedisiplinan dan melatih konsentrasi mereka. Dengan modal disiplin, fokus, dan konsentrasi, anak-anak akan bisa menyerap pelajaran dengan baik. Hal ini ia contohkan dengan apa yang dilakukan Jepang. Sejak kecil, anak-anak dikenalkan tradisi samurai. Pengenalan ini bukan untuk membuat anak-anak hebat berperang tetapi mereka memahami filosofi dari samurai. Demikian pula dengan panahan tradisional. Filosofi pengendalian emosi yang harus dikedepankan.

“Saya sering mengajak anak-anak kecil untuk latihan. Memang perlu pengawasan karena ujung anak panah itu tajam. Tetapi, disitulah seninya. Kita mengajarkan mereka cara membawa anak panah agar tidak membahayakan. Disisi lain, ujung anak panah yang tajam itulah yang mengantarkan kita mendapat nilai karena berhasil menembus sasaran,” ujar Popop. Salah satu cucunya, Tata sudah mengikuti jejak Popop sebagai pemanah tradisional.

Kepada anak-anak diminta untuk terus semangat berlatih. Jangan mudah patah semangat.  Kemampuan memanah tidak diperoleh secara instan tetapi proses latihan yang disiplin dibarengi dengan pikiran yang bersih. Kala muncul titik jenuh, gunakan untuk introspeksi. Ingat kembali teknik-teknik yang benar agar mencapai hasil yang maksimal. Meditasi juga menjadi solusi untuk menenangkan pikiran sehingga bisa fokus dan berkonsentrasi saat memanah.

Popop juga menuturkan di Solo, latihan panahan rutin dilakukan melibatkan anak-anak hingga orang tua. Khusus Sabtu Legi, mereka mengadakan gladhen (latihan bersama). Saat gladhen, yang muncul bukan persaingan untuk menjadi juara. Yang muncul adalah rasa persaudaraan. Mereka memperkuat tali persaudaraan dengan bersilaturahmi sembari memanah.

Selain membina pemanah-pemanah muda, Popop yang juga Penasehat SIPAS ini memiliki usaha pembuatan busur panah tradisional (gendewa) di belakang Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Busur buatan Popop tidak hanya dipakai di Indonesia, ia juga mengirim ke luar negeri. Bahan baku yang dipakai adalah kayu sawo dan bambu petung. Karena proses pembuatan yang rumit, pemesan harus antre. Antara satu busur dan busur lain memiliki perbedaan karena tergantung karakteristik pemesan.

Bagi Popop, membuat busur tidak boleh grusa-grusu, perlu kesabaran dan perhitungan yang matang agar menghasilkan busur berkualitas terbaik. “Teman-teman di Bali yang mau belajar membuat busur, silakan ke Solo. Kami siap mengajarkan proses pembuatan busur lengkap dengan anak panah,” ujarnya. (ngurah budi)