Boyolali,(bisnissurabaya.com)-Investor asal Amerika melirik Boyolali, Jawa Tengah (Jateng). Wilayah ini dinilai sangat strategis bagi pemodal, karena merupakan jalur penghubung antar provinsi. Seperti yang diungkapkan Hartadinata Harianto, Chief Executive Officer (CEO) Stern Resources/SR New York, United States of America (USA) usai mengadakan pertemuan dengan Bupati Boyolali, Seno Samodro, pekan lalu.

Seno menyambut kedatangan Hartadinata Harianto bersama partner, Carl E Bolch, III, Managing Director Stern Resources, dan merupakan salah satu orang terkaya ke-156 dunia versi Forbes, serta Dinnah Tanuhardja, pemegang Stern Indonesia. Bupati Seno, banyak mengurai visi misi kabupaten penghasil sapi perah ini sebagai wilayah pro investasi.

“Hal ini sebagai upaya mewujudkan Boyolali menjadi kota smart, green, sustainable, investment,” kata Seno Samodro. Ada sebelas proyek yang ditawarkan kepada SR. Ke-11 proyek itu adalah airport, Kerajaan Nuswantoro (Boyolali Nuswantoro Kingdoms), cable car (Kereta Gantung), golf, Boyolali Hill, green hospital, Eco Industrial Park, F1 dan GP, Shopping Mall Center, agrobusiness, agrotechnopark, Football Stadium and School, education, dan waste management.

Kerajaan Nuswantoro merupakan kawasan desain kerajaan yang cukup menarik minat Stern. Wahana hiburan dengan konsep utama kawasan Kerajaan Nuswantoro ini dirancang sebagai kawasan wisata edukasi, konservasi, dan entertainment seluas 500 hektar di Kecamatan Andong, satu kawasan dengan Borobudur. Sehingga Boyolali dikenal sebagai kawasan destinasi pariwisata nasional. Zonasi sendiri dibagi dalam sembilan kerajaan besar dan 14 kerajaan kecil dalam satu kluster.

Pola zonasi seperti taman bermain Disneyland terdiri dari lokasi kerajaan, fasilitas hotel, resort dan kuliner, pengelola, parking area, dan fasilitas pendukung. “Boyolali Nuswantoro Kingdoms mengakomodasi kerajaan terdahulu dan kerajaan eksisting diberbagai belahan negara,” tambah Prof Arif Kusmawanto, tim arsitek dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain itu, Boyolali juga mengoptimalkan industri sapi perah dan sapi potong.

“Peluang investasi, karena di Indonesia membutuhkan sapi perah dan sapi potong. Sangat banyak potensi yang bisa dikembangkan di Boyolali,” imbuh Prof Arif. Hartadinata Harianto, menyatakan sudah beberapa kali melakukan diskusi dengan Professor Arif, untuk menunjukkan keseriusan perusahaan raksasa ini dalam partisipasi pembangunan Boyolali.

“Kami Stern GroupĀ  berkeinginan berpartisipasi dalam pembangunan di Boyolali. Salah satunya dengan rencana membangun arena permainan sekelas Disney, tetapi berbeda perusahaan. Karena kami akan menggandeng operator yang lebih fleksible dari Spanyol,” terang calon konglomerat Indonesia yang berusia 23 tahun ini. Adapun konsep permainan ini bisa disesuaikan dengan karakter dan situasi Indonesia.

“Kami juga mengajak salah satu partner kami Carl E Bolch, yang merupakan keluarga terkaya versi Forbes nomor 156. Dan itu menunjukkan keseriusan kami tidak main-main. Jauh-jauh ke Indonesia 23 jam dan naik mobil 8 jam menuju Boyolali dari Surabaya,” ungkap putra dari Tjandra Harianto, sambil menjelaskan keindahan dan keanekaragaman Indonesia sungguh menakjubkan. Selain di permainan, SR rencananya berpartisipasi dalam develop property bersama Stern Resources Group. “Kami juga akan mengembangkan jaringan rumah sakit dan klinikĀ  yang akan dimanage Northwell Health. Dimana Northwell mempunyai akses yang luar biasa di USA terhadap pengusaha kelas dunia dan akses ke financial sektor,” papar pria ini ramah.

Boyolali seakan sebuah daerah gravitasi yang sering dilewati orang, namun belum tersentuh. Membuat SR tertarik untuk berinvestasi di Boyolali. Disinggung soal nilai investasi, Harta menyatakan bisa sesuai market serta tergantung support dari pemerintah setempat. “Nanti kita lihat mana yang paling diprioritaskan. Bersama Carl sebagai Co investment, karena satu company,” imbuh Hartadinata.

Sementara, Carl mengaku sangat berkesan dengan kunjungannya ke Indonesia pertama kali ini, terlebih perjalanan cukup panjang dan melelahkan. “Indonesia sangat ramah, dan berbeda dengan opini yang dibentuk media Amerika,” ujar Carl. (lely)