Industri Ritel Merosot, Akankah Tetap Bertahan?

118
ilustrasi/ist

(bisnissurabaya.com) – Siklus pertumbuhan bisnis industri ritel kuartal I yang cenderung merosot, diperkirakan peluang bisnis hingga tutup tahun nanti tidak akan memuaskan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur menilai industri pasar modern atau supermarket di wilayah setempat melemah akibat ketidakpastian pemberlakukan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2014 tentang penataan toko swalayan.

Disisi lain perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu faktor beberapa gerai 7-eleven menutup gerainya dan melakukan relokasi.”Akibat tidak pasti itu berdampak pada penurunan pendapatan industri ritel pada triwulan pertama, dan melemah sampai tujuh persen,” terang Ketua Bidang Supermarket Aprindo Jatim Donny Kurniawan.

Padahal pertumbuhan peritel di kuartal pertama tahun 2016 mencapai 11 persen hal ini disebabkan ketidakpastian pemberlakukan Perda nomor 8 Tahun 2014 membuat waktu buka atau tutup beberapa supermarket tidak jelas sehingga pertumbuhan ritel tidak stabil.

“Saat ini kami berharap ada kepastian perda sehingga kami bisa meningkatkan distribusi produk rumah tangga 50 persen hingga 60 persen,” ujarnya.

Mengingat, kebutuhan ritel di masyarakat didominasi oleh produk-produk rumah tangga. Dengan adanya kejelasan perda diharapkan ada kenaikan sektor ritel 12 persen hingga 15 persen di triwulan kedua 2017. Untuk itu pihaknya bersama Aprindo pusat telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Keuangan untuk berusaha menekan laju inflasi agar harga barang tidak naik.

Sebab, kata ia, apabila inflasi mampu ditekan rendah maka harga tidak akan naik serta pertumbuhan ritel akan lebih bagus. Kenaikan inflasi sebelumnya yang mencapai empat persen sangat berpengaruh pada naiknya harga.Saat ini ada 600 peritel di Jatim, mulai dari hipermarket, supermarket, toko swalawan. Aprindo telah menargetkan naik sampai 15 persen pada tahun 2017 namun kini masih terbentur ketidakjelasan aturan perda.

Sementara pusat pada 2015 (pertumbuhan) hanya 8 persen. Lalu, 2016 hampir 9 persen. Harapan kami, tahun ini bisa ditutup setidaknya 9-10 persen. Jadi, belum kembali seperti tiga sampai lima tahun lalu yang mencapai 12 persen sampai 15 persen.

Aprindo pusat berharap pada periode April-Juni, pertumbuhan industri ritel bisa terdongkrak momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada kuartal II. Secara histroris, pada momen inilah pertumbuhan ritel terdongkrak.

Namun begitu, masih ada bayang-bayang sentimen di sisa sembilan bulan terakhir terkait pengaturan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh pemerintah hingga aturan yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 mengenai Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.

Ketum Aprindo Roy Mande memperkirakan, pengaturan HET tidak akan memberi dampak kerugian. Tetapi, persoalannya, pertumbuhan sektor ritel diperkirakan tak berkembang pesat lantaran harganya diatur oleh pemerintah, khususnya untuk komoditas gula, minyak goreng, termasuk daging sapi.

Roy juga mengakui, penjualan ritel pada kuartal pertama tahun ini mengalami penurunan atau underperformance. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan industri ritel dari bulan ke bulan yang belum tumbuh memuaskan, bahkan minus.

Untuk April hanya tumbuh 4,1 persen, namun di Mei turun 3,6 persen. Angka tersebut didapat dari 5 format retailer, yakni minimarket, supermaret, hypermarket, departement store dan wholesale atau kulakan. Sedangkan untuk tahun lalu, bulan Mei 2016  tumbuh 11,1 persen.

“Kami menilai bahwa pertumbuhan ritel di kuartal pertama masih turun dan masih di bawah untuk performanya,” ujar Roy saat dikonfirmasi.

Hal itu dapat dilihat saat minggu pertama dan kedua bulan Juni 2017, angkanya masih rendah dan tidak sama pertumbuhannya seperti tahun lalu. “Jadi analisis kita bahwa libur Lebaran ini merupakan panen raya peritel, itu salah, untuk tahun ini lebih rendah. Sedangkan untuk minggu ketiga keempat kami belum dapat angka. Kami hanya dapat info bahwa khususnya untuk format hypermart dan supermarket, minus tumbuhnya, kemudian minimarket surplus,” terangnya.

Ditambah lagi, untuk masyarakat middle income, tahun lalu tidak ada peningkatan pendapatan, maka menimbulkan sentimen negatif.Memang saat ini, Aprindo mengamati, perilaku masyarakat yang lebih selektif dalam berbelanja, menjadikan waralaba agak jarang peminat.

Kondisi tersebut, otomatis membuat penghasilan di waralaba menjadi tak setinggi ketika awal-awal berdiri. Namun kondisi tersebut wajar. Penurunan minat pembeli itu salah satunya situasi perpajakan yang terus digenjot, sangat dirasakan masyarakat.”Ya, karena pemerintah sedang menggenjot perpajakan, maka banyak komoditas yang dikenakan pajak menjadi salah satu menurun minat beli masyarakat saat ini,” pungkasnya.(ton)