Hitung-hitung Pasca Lebaran : Gairahkan Ekonomi Kita

22

(bisnissurabaya.com) – KALAU bukan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan dan pakar ekonomi kelas dunia itu yang ngomong, bahwa “Lebaran dan mudik membuat ekonomi RI bergairah”, maka tidak bisa kita buat bahan perbincangan di kolom ini. Menurutnya, perayaan Idulfitri berikut kegiatan mudik yang lalu memberikan dampak positif pada ekonomi Indonesia. Akibat dua kegiatan tersebut, ekonomi kita menjadi bergairah. Dia contohkan, jika dulu orang kesulitan mencari restoran karena tutup saat lebaran, kini justru sebaliknya. Hal itu membuat ekonomi terus berputar. “Saya perhatikan ekonomi Indonesia selama satu dekade ini, kalau lebaran sulit mendapatkan tempat makan. Sekarang tempat usaha sudah mulai pragmatis, jadi bisa buka pas lebaran. Jadi ini menimbulkan ekonomi yang memutar cukup banyak. Pasti banyak pekerja yang membutuhkan dibayar dan butuh bayaran ekstra,” katanya (25/6). Sambungnya: “Dari perputaran uang, masyarakat pasti akan membelanjakan terutama untuk satu minggu ini cukup besar. Dilihat dari jumlah, mudah-mudahan kita tidak lihat banyak cash-nya. Jadi lebih banyak cashless.”

Meskipun rutinitas mudik saat lebaran, menurut dia, lebih banyak memberikan dampak ekonomi di Pulau Jawa. Hal itu, disebabkan pergerakan arus mudik sebagian besar terjadi di pulau ini. “Sebenarnya mayoritas yang lebih diuntungkan di Pulau Jawa. Tradisi pulang kampung pas lebaran konsentrasinya di Jawa. Untuk beberapa provinsi seperti Jabar, Jateng, Jatim, Jogjakarta, Solo, akan mendapatkan aktivitas dari sisa tempat tinggal, yaitu hotel dan tempat makan,” kata  Sri Mulyani..

Apa yang diungkapkannya bahwa para pengusaha jual makanan yang besar, menengah, kecil sampaipun kedai pinggir jalan yang menurut Sri Mulyani, mereka sudah berpikiran pragmatis dengan tetap berjualan selama dan beberapa hari usai lebaran, memang dapat dibuktikan. Di Surabaya maupun beberapa kota sekitarnya seperti Sidoarjo dan Gresik, indikasi mulai berpikiran pragmatis itu terdapat pada rumah-rumah makan kelas menengah dan sebagian yang kecil maupun kedai-kedai yang tetap buka. Contoh, kebetulan saya mencari makanan di kawasan pusat makan (kedai-kedai) kakilima sekitar Kelapa Gading dan Sunter, Jakarta Utara, di kawasan Kebayoran Baru dan lain-lain. Di Surabaya pun tidak sulit untuk mencari makanan selama itu. Banyak kedai tetap berjualan, meskipun memang ada yang tutup. Jangan bicara lagi restoran-restoran. Sehingga selama Lebaran dan beberapa hari sesudahnya, tidak sulit untuk jajan di pusat-pusat makan di kota-kota besar.

Indikasi macam itu ditinjau dari perekonomian rakyat dan kebutuhan hidup masyarakat, selain menunjukkan pemikiran pragmatis (dan ekonomis), juga pertanda mulai bergesernya “budaya” para pengusaha makanan kecil dari mementingkan mudik menjadi mementingkan usahanya. Mudik bisa dilakukan kemudian harinya ataupun bergiliran antar pekerjanya. Budaya mudik memang sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat.kita. Terutama bagi kaum Muslimnya. Sungkem orang tua atau yang .dituakan, berkumpul bersama keluarga besar, juga bertandang ke keluarg htung-hitung bagaimana mengembalikan hutang.ga kerabat atau kawan. Malahan ada yang menjadikan perayaan Lebaran sebagai ajang pamer kepemilikannya yang bertujuan menunjukkan hasil karyanya di tempat jauh. Namun tidak sedikit usai Lebaran harus hitung-hitung beaya yang dikeluarkan dalam berlebaran. Malahan ada yang hitung-hitung bagaimana mengembalikan hutangnya.  Bagi yang berusaha di sektor menjual makanan (lewat kedai atau restoran), entah berapa ratus ribu rupiah hilang, kalau usahanya tutup selama Lebaran, sementara pelanggannya membutuhkannya. Kesempatan emas dilewatkan, yang terkadang ada yang menganggap “mudik lebih utama ketimbang laba yang diraih.”

Memang masih banyak yang tidak memperhitungkan pendapatan atau keuntungan berusaha pada kesempatan yang baik. Mereka mengutamakan “budaya” atau “kebiasaan” dalam momen Lebaran. Namun untungnya mulai nampak kecenderungan pemikiran pragmatis dalam Lebaran yang baru lalu. Perputaran perekonomian rakyat semacam itulah yang menurut hitungan Menteri Keuangan kita sebagai “kegairahan dalam perekonomian Indonesia. Harapannya, perputaran perekonomian demikian tidak hanya di pulau Jawa, akan tetapi di semua daerah di negara kita.

BAGIKAN
Berita sebelumyaPP Property Realisasi Apartemen Zero Narkoba
Berita berikutnyaNeraca Air