Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Menangkap pantulan cahaya. Menorehkan setiap spektrum warna, seperti kilauan matahari. Rasanya tidak berlebihan jika hal tersebut diibaratkan layaknya seorang seniman lukis, Hamid Nabhan. Pemilik Nabhan Gallery ini adalah nasionalis tulen yang mendedikasikan hampir sebagian waktunya untuk merangkul para pelaku seni dan penulis dalam berkarya.

Ia banyak menerbitkan berbagai buku, dibagikan secara cuma-cuma. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai ribuan eksemplar. Bagi Hamid, hal tersebut merupakan sumbangsih literasi kepada insan seni Indonesia. Karena ia tahu betul, bahwa kemampuan daya beli siswa atau orang yang bersekolah di kesenian masih sangat minim. Hamid mengapresiasinya.

“Karena buku-buku seni masih jarang, apalagi buku terjemahan. Kami bersemangat untuk menterjemahkan buku luar itu dan menerbitkannya untuk kepentingan masyarakat lebih luas secara gratis,” kata lelaki kelahiran Surabaya, 15 Agustus. Penghobi travelling ini mewarisi darah kakeknya, Salim Nabhan, donatur kemerdekaan. Gen yang diturunkan juga karakter terbentuk sempurna. Baginya, seorang nasionalis memberi pada bangsanya, bukan sebaliknya.

“Saya sempat menulis quote itu, kakek adalah pejuang kemerdekaan. Gen itu yang diturunkan,” imbuh Hamid. Salim Nabhan, adalah pemilik percetakan yang jaya pada masanya. Ia banyak menyalin buku-buku kitab dari Mekkah untuk pondok pesantren tanah air melalui tulisan tangan. Perjalanan panjang mulai dari bisnis emperan hingga memiliki rumah, sekolah, hotel, serta membeli mesin percetakan. Usaha yang terus dirawat hingga generasi kedua saat ini.

Mengawali terjun dalam bidang seni budaya memang kemauan Hamid. Berawal sejak 2008 silam, kala ia mulai tertarik mencetak katalog karya-karya lukisan impressionisnya sendiri. Lama kelamaan timbul keinginan untuk mencetak buku-buku terjemahan guna dibagikan, terutama tersebar di kota-kota besar.

Ia acapkali membantu kawan seniman yang memiliki karya bagus, namun tidak mempunyai dana lebih untuk mencetak buku. Hamid tak bosan menerbitkan buku secara gratis. “Itu aku bantu, lalu dibagikan ke perpustakaan, sekolah, penulis seni, dan kalangan teman sendiri,” ceritanya dengan gaya khas yang kalem.

Tak dipungkiri, karya Hamid banyak dipengaruhi genre light painting/lukisan cahaya. Orang menyebut impressif, sebuah lukisan impressionis bergelora dan tidak membosankan. Pemilik karya “Pohon Sunyi” ini dijadwalkan segera melaunching buku terbaru, “Aku dan Impressionis”, sebuah karya yang ia tulis sendiri. Impressionis lahir dari kejenuhan akan aturan-aturan akademik.

“Sehingga ia ingin keluar dari aturan akademik, kemudian membuat lukisan kesan,” tuturnya.

Dalam buku tersebut, ia menuangkan dasar-dasar melukis impressionis. Bagaimana menyajikan obyek secara sederhana namun menghasilkan kesan (impressif). Perjalanan memburu obyek, seperti “Petani Kacang” dan “Petani Gamping”, mengambil lokasi pesona alam dan kegigihan orang Madura melawan terik matahari. Dibalut keindahan alam, Hamid mencoba menggambarkan nuansa sejuk melalui goresannya, sebagai hak otoriter seorang seniman.

“Apa yang diambil disitu adalah semangat mereka dan suasana terik, yang coba aku tuangkan lebih indah dalam lukisan,” paparnya.

Dalam bagian kedua juga diuraikan teori seputar seni. Termasuk teori impressionis, unsur-unsur estetika yang ada di dalamnya. Mulai dari warna, bentuk, garis, komposisi, dan sebagainya. “Ini adalah buku teori untuk melukis. Tujuan aku sendiri ingin memberikan sumbangsih berupa literasi kepada insan seni Indonesia,” ucap Hamid Nabhan.

Lukisan Hamid yang pertama banyak dikoleksi ibunda Dhani Ahmad, Joyce. Asal tahu saja, saat di sekolah nilai seni yang ia peroleh cuma lima. Bisa jadi sebuah alasan, bakat tidak tercipta dari teori. Ia banyak menerima pengaruh dari seorang guru seni, lalu mulai mencintai Impressionis ala Monet, Van Gogh sang Avant Garde atau pembuka madzab “Post Impressionis Ekspressionis”, maupun sederetan tokoh pengusung aliran serupa.

“Istilah impress sendiri diakui di Perancis, mengambil esensi dari benda. Tapi sebelum itu sudah ada lukisan bergenre serupa di negara lain,” urainya. Karya ke-23 setebal 32 halaman ini menyusul kesuksesan buku literatur seni yang ia buat sebelumnya, Kubisme, sebuah aliran yang dikenalkan oleh Picasso. Dan menurutnya, ia tetap tak bosan untuk segera menerbitkan karya istimewa lain, tetap secara cuma-cuma. (lely)