Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Perekonomian warga di eks lokalisasi Dolly dan Jarak berangsur bangkit. Pemberdayaan masyarakat di kawasan bekas lokalisasi Dolly pun juga dikembangkan terutama bidang Usaha Kecil Menengah (UKM).

Seperti yang dilakukan ibu – ibu dari kelompok kerja (Pokja) Gang Putat Jaya 4a. Mereka berhasil menciptakan makanan ringan berlabel Samijali (Samiler Jarak Dolly). Agar produk ini lebih dikenal masyarakat luas, khususnya warga Surabaya, mereka mengabadikan jenis makanan ringan dengan memberi nama Gang Putat Jaya 4a menjadi Gang Samijali, Samiler Jarak Dolly.

Produk makanan ringan Samiler Jarak Dolly adalah snack dengan aneka rasa yang diolah dari bahan baku samiler. Meski, memakai bahan yang konvensional, tetapi keripik ini bercita rasa modern dengan desain packaging yang cantik dan kedap udara.

Semua inovasi tersebut tidak terlepas dari peran Pemerintah Kota, Kementerian Sosial, serta Gerakan Melukis Harapan (GMH) yang telah banyak memberikan sumbangsih dalam mengentaskan warga sekitar dari keputusasaan menghadapi masa depan baru.

“Waktu itu Pak Camat Yunus, mengumpulkan warga eks lokalisasi selama kurang lebih empat bulan di kecamatan,” kata Ketua RT XI, Slamet, saat ditemui di Balai RW yang sekaligus tempat display produk Samijali.

Warga membahas rencana kedepan pemberdayaan warga terdampak lokalisasi. Mereka kemudian dikenalkan dengan GMH. Dari situlah GMH membantu memberikan pelatihan binaan. Memang, tidak direncanakan, dan akhirnya jatuhlah pilihan kepada warga Gang Putat Jaya 4a.

Meski tak semudah membalik telapak tangan untuk memberikan kepercayaan diri kepada warga guna memperoleh penghasilan baru, dengan berbagai usaha, akhirnya rencana itu pun terealisasi.

“Karena saat itu masih pasca penutupan, disini masih ada beberapa wisma. Saya sempat ragu menawarkan ide tersebut kepada ibu – ibu karena masih ada yang sakit hati,” jelas Slamet, sambil tersenyum ramah.

Ternyata, ide disambut baik oleh ibu – ibu kelompok kerja setempat yang diketuai Rr Dwi Prihatin Yuliastuti Soetanto, yang waktu itu menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga sekaligus nyambi ojek.

“Waktu itu disini tak ada kegiatan setelah penutupan selama satu tahun. Akhirnya setelah warung saya tutup, saya banting setir menjadi ojek mengantar anak tetangga ke sekolah. Ketika itu dikabari Pak RT bahwa nanti akan ada anak GMH, yang akan memberi pelatihan usaha,” ujarnya.

Setelah pelatihan menggoreng, GMH memberi pandangan apa dan bagaimana yang harus dilakukan ibu – ibu warga terdampak di kawasan ini.

‘’Awalnya bukan samiler ini, tapi mie ijo, kemudian pentol lele. Tapi ternyata kurang diminati, karena bingung soal pemasaran juga. Akhirnya berhasil menemukan samiler, itupun setelah berminggu-minggu,” papar wanita kelahiran Surabaya tersebut.

Proses produksi yang dilakukan sejak setahun pasca penutupan Dolly sempat mengalami berbagai kendala. Mulai dari kurangnya SDM, faktor cuaca penghujan, bahan yang hancur karena terlalu tipis pemotongannya, sampai proses penggorengan yang butuh ketepatan waktu untuk menghasilkan keripik samiler renyah.

“Susahnya kalau cuaca sedang hujan, waktu orderan banyak ya memang bingung kan di sini banyak berjajar. Akhirnya kita jadikan satu di rumah Yayuk, warga yang tempat tinggalnya dibuat sentra penggorengan Samijali ini ditaruh dalam satu box,” jelasnya.

Kendala yang paling besar karena kurang tenaga Sumber daya manusia karena banyak juga anggotanya yang berstatus rumah tangga yang sibuk mengurus keluarganya sendiri. Namun, Dwi tak patah arang. Ia selalu menyemangati agar ibu – ibu disekitar bisa ikut andil dalam perkembangan usaha ini.

“Sebenarnya mereka bukan malas, tetapi memang belum yakin. Karena memang waktu itu kita baru dapat Rp 50.000 per bulan. Dari situ, ada keinginan untuk menambah omset,” Jelas Dwi.

Menurut Dwi, kesulitan modal teratasi setelah Mensos Khofifah Indar Parawansa dan beberapa isntansi, memberikan modal usaha. Dari situlah semangat untuk terus memperkaya cita rasa produk semakin meningkat hingga akhirnya tercipta empat varian rasa (sapi panggang, balado, keju, original) dalam kemasan 70 gr, 100 gr, dan 110gr dengan harga mulai dari Rp 8.000 sampai Rp 12.500 per bungkus.

Saat ini Samijali sudah mulai dikenal dan bisa dijumpai di pameran produk UMKM dengan bantuan dari pemerintah setempat bahkan ke luar negeri. Omset yang dicapai bisa berada pada kisaran Rp 5 juta  per bulannya atau lebih tergantung banyaknya order.

Dwi berharap Samijali memiliki toko yang layak di pinggir jalan raya agar produk arahan GMH ini bisa lebih dikenal masyarakat luas. “Dulu pernah diusulkan, memiliki gerai di depan jalan raya, lalu ada tulisannya jual camilan eks lokalisasi,” ujarnya penuh harap.

Selain Samijali, ikon lain yang terlahir di Kawasan Dolly adalah produk minuman Orumy.  Warga Putat Jaya III A mengolah rumput laut menjadi minuman olahan berbagai macam rasa.

Sebelumnya warga Putat tidak memiliki keahlian untuk membuat sebuah olahan yang menghasilkan uang. Namun warga diberikan workshop oleh mahasiswa membuat olahan minum berbahan dasar rumput laut.

Kampung Orumy pun turut ‘face off’. Kini kampung yang masuk wilayah Kecamatan Sawahan ini sudah berwarna setelah dicat dan digambar mural. Ketua RT 3/RW 3 Putat Jaya III A Sarbani mengakui kampung yang dulunya seluruh rumah sebagai wisma dan rumah musik ingin berubah pasca alih fungsi lokalisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya.

“Awalnya kampung ini mau dijadikan sebagai Kampung Remo yang menghasilkan penari remo, namun warga tidak setuju. Warga ingin seperti kampung lainnya yang mempunyai produk unggulan sekaligus identitas,” kata Sarbani.

Awalnya ibu-ibu tergabung dalam kelompok batik tulis Jarak Arum. Kemudian muncul ide membuat produk minuman olahan dengan mencontoh makanan olahan keripik singkong Samijali (Samiler Jarak Dolly)  yang telah diproduksi kampung tetangganya.

Hingga akhirnya terbentuk kelompok INOKAM (Inovasi Kampung Mandiri) yang mampu menghasilkan 300 botol minuman olahan rumput laut. Hasil penjualan minuman tersebut mampu menambah penghasilan warga kampung yang dulunya bekerja sebagai penjaga wisma, mucikari wisma maupun rumah musik.

“Beberapa pembuatnya adalah mantan mucikari yang Alhamdulillah, mereka mau diajak susah serta membangun dari awal. Yang dulunya mereka hanya duduk sudah dapat uang,” ungkap Sarbani.

“Kita sebelumnya tidak memiliki keahlian namun berkat pak Yunus camat Sawahan memberikan solusi dengan memanggil mahasiswa untuk mengajari mengolah minuman berbahan dasar rumput laut,” ungkap Hariani, pembuat minuman olahan rumput laut.

Proses produksi olahan ini cukup mudah dengan dibantu warga sekitar setiap ada pesanan ataupun kegiatan di Surabaya ia selalu membuat stok minuman dengan dua adonan resep.

Tahap pengolahannya rumput laut supply dari Manukan yang sudah siap olah, di cuci bersih lalu direndam kemudian dicuci lagi, lalu ditimbang dan diblender. Selanjutnya direbus sampai mendidih dengan 2 liter air .

Setelah itu gula dimasukkan, diaduk dicampur dengan bensoat atau pengawet, baru kemudian dimasukkan garam sedikit. Rebus hingga mendidih lalu diangkat, ditambahkan gula cair atau fruktus barulah setelah dingin diberi varian rasa lalu dikemas dalam botol plastik yang unik.

“Tidak ada kesulitan untuk proses pembuatannya mungkin kita kesusahan mencari botolnya, karena botol yang kita punya ini unik dan beda, serta penjualan yang masih terbatas karena kita masih belum punya sertifikat halal,” imbuhnya.

Dengan harga sepuluh ribu rupiah per botol,  para pembeli bisa memilih minuman Orumy atau minuman berbahan dasar rumput laut ini dengan beragam rasa seperti Leci, Strowberry, Lemon dan Green Tea. (lely)