(bisnissurabaya.com) –  Wajah Eki Puji Lestari,  tampak sumringah. Betapa tidak, hari pertama pameran Inacraft kerajinan lilin miliknya laris manis. Rupanya banyak yang tergoda dengan dummy makanan yang sepintas mirip sekali dengan makanan sungguhan. Awal yang baik.

“Dummy makanan khas Solo yang saya taruh di etalase utama habis terjual. Tadi banyak pengunjung yang tanya, tapi saya bilang habis,” kata Eki, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Di stan Eki yang diberi nama “Griya Lilin’ berbagai macam dummy makanan dari lilin ditampilkan. Satu di antaranya yang cukup menarik adalah tumis daun ubi yang sangat persis dengan makanan sebenarnya. Terlihat sekali kalau Eki,  sangat memperhatikan detail. Selain dummy makanan, Eki juga menampilkan lilin aneka warna, aneka jajanan, serta souvenir lilin mungil.

Eki, mengaku keberhasilan bisnisnya tidak dicapai dengan mulus. Malah, katanya, dia sempat ‘mutung’ alias patah hati lantaran mendapat pengalaman buruk dengan seorang customernya yang rewel.

“Waktu itu saya belum lama terjun ke kerajinan lilin. Ada customer yang memesan souvenir lilin namun dia menghendaki warna dan bentuk yang sama. Ini kan sulit. Karena ini adalah kerajinan handmade.  Wah customernya galak sekali, dia  membentak-bentak dan mengeluarkan kata-kata yang tak patut. Saya sampai ingin nangis karena sakit hati,” ungkap wanita ramah bersuara halus itu sembari menunjuk etalase utama yang kini telah berganti dengan makanan lain juga es cream aneka rasa.

Gara-gara kasus itu, tutur Eki, dia pun berniat meninggalkan bisnis yang baru dirintisnya. “Saat itu aku sakit hati banget. Aku bilang ke suamiku mau berhenti. Kata suami, ya sudah kalau memang tidak mau diteruskan tidak apa-apa. Saat itu pas menjelang Lebaran. Jadi aku pikir aku bereskan dulu masalah gaji karyawan juga THR nya setelah itu selesai,” tutur Eki.

Ternyata, menjelang hari ‘H’ , datang customer yang ingin memesan souvenir. Karena dia sudah bertekad berhenti usaha, Eki pun memberi harga yang agak mahal kepada customer itu. “Souvenir lilin es cream dalam gelas mungil, ternyata dia suka sekali. Tapi aku ndak enak kalau harus nolak, jadi aku bilang harganya Rp7500 padahal biasanya Cuma Rp5.000. Tak disangka, customer ku langsung mengiayakan tanpa menawar,” tuturnya,

Bahkan, tambah Eki, tak tanggung-tanggung dia memesan dalam jumlah banyak sekitar 7000 pieces. “Aku yang tadinya mau berhenti jadi tergiur, tergoda lagi. Akhirnya tak jadi berhenti karena setelah kejadian itu justru pesanan lilin saya melimpah hingga saya kewalahan,” ungkap Eki.

Ibu satu anak ini bertutur awalnya terjun ke bisnis lilin. Ia memulai usahanya  sekitar tujuh tahun lalu, persisnya 2010. Ketika itu, kata Eki, berdasarkan hasil survey yang dilakukannya, selain bisnis ini memiliki prospek yang bagus juga UKM yang menekuni ini tergolong jarang.

“Saya tadinya bekerja kantoran. Tapi kemudian berhenti setelah melahirkan, saya ingin waktu saya sepenuhnya merawat anak. Kemudian terpikir untuk mengisi waktu luang dengan melakukan aktivitas yang bermanfaat,” tutur Eki.

Awalnya, tambah Eki, dia ingin melakukan berbagai aktivitas pemberdayaan perempuan di lingkungannya. “Kebetulan aku menguasai banyak keterampilan. Sejak dulu aku rajin mengikuti berbagai kursus keterampilan. Maksud aku, ingin membagikan ilmu pada perempuan-perempuan yang tinggal di sekitar rumah aku. Lalu aku juga memperkenalkan cara pembuatan lilin.  Eh, malah kerajinan lilin berkembang menjadi bisnis,” kata Eki, yang dummy makanan buatannya menjadi langganan perusahaan-perusahaan besar.

Karena ingin sekali bisnisnya dikenal masyarakat, Eki rajin melakukan pameran. Diawal-awal ikut pameran, tutur Eki, dirinya belum tahu tentang efektif tidaknya pameran yang diikutinya. “Dulu belum tahu. Aku kira namanya pameran pasti bagus. Padahal pameran pun harus disesuaikan dengan karakter lingkungan yang jadi tempat pameran. Misalnya, kerajinan lilin kan lebih disukai masyarakat perkotaan, sementara masyarakat pedesaan kurang. Maka harusnya saya melakukan pameran di daerah-daerah perkotaan,” ungkapnya.

Namun, kata Eki lebih jauh, dia banyak memetik pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang dilkakukan. “Asal tahu saja ya, tidak semua pameran menguntungkan. Kadang malah tekor. Tapi kita harus menjalaninya karena lewat pameran lah produk kita dikenal. Saya sendiri meski kadang merugi tetap ikut pameran. Dan hasilnya memang, pada akhirnya saya tuai kemudian, produk saya makin dikenal dan banyak orderan masuk,” kata wanita kelahiran 1974  ini yang aktif memasarkan produknya di medsos.

Belajar Otodidak

Mengerjakan kerajinan lilin, tambahnya, membutuhkan ketekunan dan ketelitian tinggi. “Untuk mendapatkan hasil sempurna, saya lakukan trial and error khususnya pada pewarnaan. Untuk dummy makanan, kan, harus sama persis. Pencampuran warnanya, itu kadang sulit. Makanya kalau saya membuat dummy makanan, harus ada contoh masakan aslinya, bukan hanya foto,” kilahnya.

“Kadang masakan jadi pun tak cukup maka saya pun harus melihat bahan yang akan dimasak. Dari sana saya bisa melihat warna asli sayurannya misalnya. Kemudian setelah dimasak akan terjadi perubahan warna. Dengan begitu saya akan menjadi semakin paham  campuran warnanya,” tambah Eki yang mengaku sejak kecil sangat suka kerajinan.

Bisa jadi, karena sangat hobi kerajinan, sehingga Eki dengan cepat bisa menguasai ketrampilan lilin, termasuk teknik mencampur warna. “Saya belajar otodidak, tidak les,” tambah Eki yang baru saja mendapat proyek besar membuat dummy aneka masakan untuk acara festival kuliner di Tangerang, Mei mendatang.

Alhamdulilah, kata Eki, banyak yang suka dummy masakan buatannya. Soal harga, menurut Eki, disesuaikan dengan bahan yang digunakan, juga tingkat kesulitan pembuatannya. “Kalau dummy masakan bisa berkisar antara Rp400.000 –an  tergantung masakannya.  Bahkan saya pernah juga membuat dummy pesanan sebuah hotel di Bandung dengan harga Rp2 jutaan. Waktu itu saya membuat dummy burger ukuran besar. Itu jadi mahal karena bahan yang dipakai banyak,” paparnya.

Tentang material lilin, menurut Eki, tidak sulit mendapatkannya. Karena bahan dasar lilin lokal juga banyak dijual. Hanya saja untuk pembuatan dummy masakan dia masih kesulitan karena membutuhkan bahan dasar dari luar negeri.

“Untuk masakan, apalagi yang dummy masakan yang berkuah , memerlukan bahan transparan dan itu tidak ada di Indoensia. Saya harus pesan ke luar negeri dan harganya pun tidak murah,” tambah Eki yang bisnisnya mulai berkibar tahun 2013. Eki bersyukur kini bisnisnya relatif stabil dengan penghasilan perbulan rata-rata Rp10 jutaan.  “Jika sedang ramai dalam sebulan saya bisa mendapat Rp50 jutaan,” tambahnya.

Meski pesaing di bisnis kerajinan lilin tidak lah terlalu banyak, namun kata Eki, sebagai pengusaha dia harus kreatif melakukan inovasi. Dia tidak boleh terlena yang bisa berakibat berhentinya kreativitas. Justru sebaliknya, ia harus selalu menciptakan kreasi-kreasi baru yang menarik.

“Saya harus selalu melakukan inovasi. Bahkan, dari kesalahan-klesalahan yang saya buat pun tak jarang melahirkan ide-ide menarik. Seperti ini, lilin unik warna warni. Ini awalnya dari kesalahan saya mencampur warna namun justru menghasilkan sesuatu yang menarik,” katanya. (diana runtu)