Kekuatan Ekonomi

69

(bisnissurabaya.com) – PERNYATAAN Presiden Jokowi bahwa  pada usia Indonesia ke-100, yang akan datang 33 tahun lagi, Indonesia akan menjadi negara besar. Antara lain dari sisi ekonomi ditandai masuk  menjadi negara dalam kelompok ekonomi terbesar ke-4 di dunia, menarik untuk dicermati.  Bila itu terjadi, saat itu jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 309 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi  5-6 persen, PDB mencapai USD 9,1 triliun, dan pendapatan per kapita USD 29.000. Berbagai upaya mesti dilakukan secara terstruktur da terprogram, khususnya peningstan kualitas sumber  daya manusia dengan ekspektasi mampu merebut teknologi, profesional dalam menjalankan tugas, dan berfokus pada upaya memenangkan kompetisi.

Persoalan tersebut menjadi relevan mengingat perekonomian nasional pada tahun ini diperkirakan akan sulit tumbuh kencang akibat kondisi global yang masih sarat risiko ketidakpastian. Apalagi Indonesia kekurangan energi sehingga trend ekonomi melemah secara jangka pendek. Pemerintah memang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia naik terutama bila dicermati  secara tahunan,  sementara bila dilihat per kuartal trend-nya menurun. Ini terjadi karena perlambatan pada sektor penghasil barang, agro, tambang, dan manufaktur.  Dengan kata lain, dalam jangka pendek kita sedang mengalami perlambatan. Sektor-sektor tersebut yang melambat tadi merupakan hajat hidup orang banyak, sehingga tidak dapat dipaksakan dikebut guna menghindari komplikasi lanjut.  Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah yang paling lambat. Setelah kemerdekaan. Korea cepat sekali tumbuh da mandiri dibanding Indonesia.  Dalam dua tahun terakhir, Indonesia juga tercatat memiliki level pendapatan per kapita paling rendah, jadi tidak bisa dipaksa, di tengah jalan niscaya banyak masalah.

Sektor jasa Indonesia tergolong besar dan mencapai 59 persen. Masalahnya,  hanya sepertiga rakyat Indonesia berada di sektor tersebut sementara sektor industri menurun terus.  Ekonom Faisal Basri dari Universitas Indonesia memprediksi bahwa tahun ini tidak akan lebih buruk dari  realisasi  pertumbuhan ekonomi  2016, namun cenderung susah untuk lebih baik sehingga perkiraan pertumbuhan di  tahun ini akan stabil, kecuali pemerintah berupaya maksimal menggenjot investasi asing.  Kita butuh banyak capital inflow. Investasi yang peranannya hanya 33 persen sulit untuk mendorong ekonomi supaya bisa tumbuh lebih dari 5 persen.  Investasi Indonesia saat ini kebanyakan dalam bentuk bangunan sehingga tidak ada mesin dan peralatan berupa  mall dengan isi sebagian barang impor.

Lingkungan Strategik

 Sejauh ini, Tiongkok mematok target pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2017 sebesar 6,5% dari target 2016 sebesar 6,5-7,0 persen atau  lebih rendah dibanding capaian 2016 lalu yang mencapai 6,7 persen dan terendah dalam 25 tahun terakhir. SKHA Institute melihat jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat, kinerja ekspor Indonesia ke negara itu juga bisa terganggu, terutama ekspor energi khususnya batubara, produk berbasis logam dan mineral, dan sumber daya alam lainnya.  Masalahnya, Tiongkok  adalah konsumen batubara dan base metal utama di pasar dunia, pelambatan ekonominya bisa mempengaruhi volume permintaan maupun harga di pasar global. Tiongkok juga akan berusaha lakukan diversifikasi negara tujuan ekspor jika Presiden AS Donald Trump memberlakukan kebijakan proteksionis.

Indonesia mungkin akan ketambahan produk ekspor dari Tiongkok yang dialihkan dari AS ke negara-negara lain. Artinya, Indonesia tentu  harus lakukan diversifikasi tujuan ekspor, misalnya ke Rusia, Peru, dan Chile. Adapun kualitas produk ekspor, maupun daya saing produk ekspor perlu ditingkatkan, misalnya dengan memberdayakan dan memperbaiki layanan pelabuhan-pelabuhan domestik dan global.  Industri di sana juga sedang terjadi pelambatan atau deindustrialisasi seperti Indonesia. Sektor jasanya tumbuh lebih cepat dari industri dan konstruksinya.  Dampak dari  berlanjutnya rebalancing ekonomi Tiongkok secara langsung memukul permintaan batubara.  Memang ekonomi Indonesia tetap kuat ditambah dengan harga minyak cukup terjaga sepanjang 2017 dengan proyeksi pada kisaran USD 50-55 per barel yang diekspektasikan bakal mendongkrak komoditas ekspor juga. Tidak mengherankan meski ada potensi penurunan volume dari Tiongkok diharapkan dengan stabilnya harga  penurunan volume tadi masih  bisa tertutup.

Industri bisa digenjot supaya meningkatkan pemasukan negara, dalam bentuk bea ekspor dan bea keluar, bukan hanya dari pajak internasional, PPh migas dan PNBP juga berpotensi naik seiring tren harga komoditas dunia.  Menko  Perekonomian Darmin Nasution menilai bahwa bila target hanya dipangkas menjadi 6,5 persen  tidak besar dampaknya. Kalau perubahan agak besar, 0,5%, akan ada pengaruhnya terhadap perdagangan.  Turunnya target pertumbuhan ekonomi Tiongkok ini memang cakupannya hanya antara Tiongkok dan Amerika Serikat, sehingga pengaruhnya terhadap Indonesia bisa mungkin bisa juga tidak.  Perubahan pada level lingkungan strategik inilah yang harus disikapi secara arif dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan pembangunan kita.

Bayangan Pelambatan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2017 dibayangi pelambatan. Sejumlah data seperti penjualan semen, ekspor impor, dan penjualan riil merefleksikan potensi itu. Bahkan, Bank Indonesia memprediksi, pertumbuhan ekonomi kuartal I=2017 bisa di bawah ,0 persen.  Jika ini benar, ekonomi kita masih jalan di tempat. Pasalnya, realisasi ekonomi kuartal IV-2016 sebesar 4,94 persen. Tak jauh beda dengan kuartal I-2016 yang tumbuh 4,92 persen   indikasi pelemahan ekonomi awal 2017 terjadi seiring konsumsi rumah tangga yang cuma tumbuh 4,9 persen.   Hitungannya, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2017 hanya 5,0 persen dengan down-side risk ke 4,9 persen. Konsumsi rumah tangga cukup kuat walaupun sedikit melemah karena inflasi.  Minimnya realisasi proyek infrastruktur pemerintah juga menjadi bandul berat ekonomi. Penjualan semen selama Januari-Februari 2017 tingkat penjualannya susut 1,1 persen dibanding periode sama tahun lalu. Proyek swasta belum jalan, sektor properti juga belum terlalu atraktif pergerakannya.

Kinerja ekspor dan impor yang tumbuh negatif pada Februari 2017 juga membuat dorongan pertumbuhan ekonomi kurang.  Ekspor kelompok barang bijih, kerak, dan abu logam Februari merosot tajam minus 316 persen. Dari  sisi impor, pelemahan impor bahan baku/penolong dan barang modal pada Februari 2017 mencerminkan masih terkontraksinya sektor riil. Produsen ragu untuk meningkatkan produksi di awal tahun.  Jika melihat pola pertumbuhan dan situasi ekonomi dua tahun terakhir, rasanya agak sulit bagi pemerintah mengejar pertumbuhan 5,1 persen selama 2017, apalagi jika kemudian inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga AS diikuti naiknya suku bunga kredit.  Kenaikan tarif listrik 900 VA juga jadi penghambat ekonomi sehingga potensial membuat pertumbuhan ekonomi kuartal I-kurang dari 5,0 persen menyusut kurangnya kemampuan pemerintah bisa menyerap anggaran belanja sehingga kehilangan momentum menggenjot pertumbuhan ekonomi. tuturnya.  Walaupun demikian BPS mencermati bahwa pelemahan kinerja ekspor dan impor Februari 2017 secara bulanan bukan indikasi pelemahan ekonomi, melainkan karena siklus. Di awal tahun, order konstruksi pemerintah belum banyak, selain jumlah hari di bulan Februari juga lebih pendek tiga hari dibanding Januari.

Kekuatan dan potensu dahsyat ekonomi Indonesia memungkinkannya tumbuh cepat apabila semua indikator kinerja dicermati secara saksama diikuti komitmen kuat memperbaiki sejumlah kelemahan melekat melalui reformulasi hakikat pembangunan sosial-eekonomi, strategi jitu, dan berpihak kepentingan nasional.  Pertumbuhan ekonomi tinggi memang penting, tetapi kita jangan lengah bahwa pemerataan hasil-hasil pembangunan dengan kapabiitas besar mereduksi ketimpangan merupakan jalan panjang harus dilalui melalui kerja cerdas dan saling menguatkan di antara pelaku.  Demokrasi ekonomi mengamanatkan terwjudkan keadilan sosal bagi seluruh rakyat melalui partisipasi secara nyata dalam desain, implementasi, dan review kebijakan pembangunan.