(bisnissurabaya.com) – Keberadaan berita yang kebenarannya diragukan atau hoax tak bisa dikendalikan lagi. Hal ini semakin meningkat dengan mudahnya mengakses media sosial, dimana dijadikan sarana untuk penyebaran berita hoax. Akibatnya, ada pihak yang dirugikan atas penyebaran konten hoax. Tujuannya, selain dari uang, juga menjatuhkan lawannya. Kondisi itu menarik perhatian Google untuk menciptakan teknologi baru melawan hoax atau klaim palsu yang berkembang pesat secara online.

Adapun teknologi yang diciptakan Google ialah News Lab. Keberadaan News Lab untuk mendukung pembuatan dan distribusi informasi agar semua bisa mendapat informasi tentang apa yang terjadi di dunia. Latar belakang diciptakannya Google News Lab dikarenakan beberapa media resmi ikut mempublish kabar hoax. Karena itu, Google hadir untuk menyediakan perangkat, data, dan program yang dirancang untuk membantu menangkal konten hoax yang disebar orang yang tidak bertanggungjawab.

 “Sekarang ini memasuki era yang sulit untuk membedakan mana berita yang benar dan berita yang palsu,” ujar Irene, wanita mantan Jurnalis ini. Journalist & Digital Media Strategist, Flip Prior menilai bahwa maraknya konten hoax itu bukan disebut sebagai fake news, melainkan ekosistem mis informasi. “Kami menyebut istilah itu karena banyak yang percaya dengan berita palsu yang disebar, baik itu isu agama dan politik. Meski orang itu tahu itu berita palsu, tapi masih tetap disebarkan,” terang Flip.

Kondisi lain yang menjadi masalah, kata Flip, ialah adanya website palsu menjelang pemilihan umum (Pemilu). Bukan di Indonesia saja, di negara lain bahkan kerap terjadi. Contohnya pernah dilakukan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS), yang menjadikan Donal Trump jado korban hoax.

“Website palsu menjadi masalah yang sangat besar utamanya jelang Pemliu. Tampak akun asli, tapi itu orang yang dibayar. Banyak orang yang tertipu. Foto atau video dimanipulasi dan mereka sudah tak peduli lagi dengan isi, yang penting mendapatkan keuntungan. Makanya Anda harus berhati-hati,” ujarnya.

Ada 7 jenis mis dan disinformasi, yaitu pertama satire atau parody. Dalam satire ini, tidak ada niat untuk merugikan namun berpotensi untuk mengelabui. Kedua konten yang menyesatkan, ketiga konten palsu, lalu empat adalah koneksi yang salah. Kelima konten yang salah, keenam konten tiruan, dan ketujuh konten yang dimanipulasi.

Untuk bisa membedakan palsu atau tidaknya suatu konten, Flip menyebutkan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Yaitu memperhatikan Bots, mengecek kebenaran website malalui pas atau tidaknya penempatan logo di website, dan bisa dicek siapa pendaftar website dengan who.is.com.

“Di who.is.com akan memberikan informasi siapa yang mendaftarkan website itu dan disitu juga tertera nomor telponnya. Kalau konten palsu disebar oleh akun media sosial, bisa di cek melalui Turnbackhoax.com, La Silla Whatsapp Detector, Turnbackhoax.com, YouTube DataViewer untuk melihat kebenaran foto, Snope.com, Izitru.com, hingga Google reverse image search. “Anda bisa crosscheck kebenaran suatu konten melalui tools dan aplikasi tersebut,” disampaikan Flip. (timothy/stv)