(foto/ist)

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Warga Dolly makin mandiri. Seperti halnya Ike Setyawati, yang dulunya jadi langganan konveksi para mucikari, kini muncul menjadi owner Batik Canting Surya. Hingga melahirkan Pahlawan Ekonomi layaknya Sri Wahyuni, pemilik Ata Collection.

Ike Setyawati, memutuskan menjadi pelaku usaha sejak pertengahan 2014 silam. Awalnya, ia mengaku sangat kesulitan untuk menciptakan produk unggulan berupa batik tulis dengan motif cerita. Namun, berkat kegigihan dan ketekunannya itu, Ike kini berhasil menciptakan kain batik tulis dengan motif cerita yang laku dijual seharga Rp 10 juta.

“Saya dulu memiliki usaha permak dan konveksi di kawasan lokalisasi. Pelanggan saya kebanyakan pegawai wisma yang ada di lokalisasi,” kata Ike, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu. Sejak penutupan kawasan, usaha yang ia rintis sejak lama menjadi sia-sia. Penghasilan jutaan rupiah yang dapat ia kumpulkan sebulan sirna sekejap mata. Berkat semangat dari sang suami dan keluarga besar, ia bertekad bangkit dengan menjadi pelaku usaha.

“Setelah Dolly ditutup, ada beberapa penyuluhan yang dilakukan pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tentang berbagai pelatihan yang diperuntukkan bagi warga terdampak. Setelah mendapatkan informasi, saya bertekad ikut dan niat untuk mencari rezeki halal menjadi pelaku usaha,” ungkap Ike.

Awal proses belajar, ia lakukan di Rumah Batik Surabaya di Putat Jaya Surabaya, akhir 2014. Saat itu, ia mengaku sering mendapatkan kritikan dari beberapa mentor. “Saat pertama kali belajar membatik, saya ikut beberapa program yang diadakan Pemkot Surabaya. Saat itu banyak program pelatihan, namun, hati saya lebih memilih untuk ikut pelatihan membatik,” ujar Ike.

Sejak saat itu, kemampuan Ike terus berkembang. Ia belajar mengembangkan berbagai motif khas kain batik Putat Jaya Surabaya. Motif tersebut diantaranya motif batik daun jarak dan motif batik buah jarak.

Bukan hanya itu, ia juga berhasil menguasai motif batik suro dan boyo. Lantas, terakhir, dengan dibantu para mentor, Ike berhasil menciptakan kain batik tulis dengan motif cerita sejarah nusantara yang laku dijual Rp 10 juta.

“Saya sangat bersyukur, beberapa waktu lalu, setelah saya berhasil menjadi pemenang juara satu lomba Desain Batik Jawa Timur yang diadakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur 2016. Ada salah satu kolektor kain batik nasional yang memesan kain batik tulis dengan motif cerita sejarah nusantara. Ia membelinya Rp 10 juta,” aku Ike.

Apalagi, perkembangan usaha kain batik tulisnya itu saat ini telah di pasarkan di berbagai gerai yang ada di Surabaya. Selain itu, ia juga memasarkannya di berbagai sosial media digital. Di antaranya facebook, WhatsApps, dan gadget lainnya.

“Untuk omset yang dapat dikumpulkan dalam satu bulan sedikitnya Rp 3 juta – Rp 4 juta. Alhamdulillah,” ujarnya penuh syukur. Untuk produksi, Ia mengaku, jika saat ini telah dibantu oleh dua orang pegawai.

“Percuma, jika kita dapat sukses tanpa membuat orang lain dapat sukses seperti kita,” tegas Ike. Selain ingin memiliki gerai pribadi, Ike juga ingin mengharumkan nama warga Putat Jaya Surabaya yang dahulu selalu dikenal dengan lokalisasi Dolly yang terbesar se-Asia Tenggara itu.

Hal sama juga dilakukan Sri Wahyuni, perempuan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi Surabaya. Yuni, begitu ia karib disapa, awalnya bekerja sebagai marketing disalah satu bank swasta di Surabaya. Lantaran jenuh dan ingin berwiraswasta, dia memutuskan untuk resign, dan memilih merintis usaha toko kelontong  di rumahnya.

“Tujuh tahun saya jadi marketing bank swasta. Saya ingin lebih mandiri dengan membuka toko di rumah,” tandas Yuni. Rumah Yuni berada di Jalan Putat Jaya. Waktu itu, lokasi rumahnya berada di kawasan lokalisasi Dolly. Sebelum lokalisasi itu ditutup, toko milik Yuni sangat ramai. Sehari, dari tokonya ia bisa meraup pendapatan Rp 2 jutaan. Namun, setelah lokalisasi Dolly ditutup, keadaannya berbalik 180 derajat.

“Setelah lokalisasi Dolly ditutup, toko yang jadi penopang hidup keluarga menjadi sepi. Pendapatan per bulannya hanya cukup buat makan,” aku ibu dari tiga orang anak itu. Yuni, harus memutar otak. Pasalnya, ia dan suaminya menggantungkan hidupnya dari toko tersebut. Sementara mereka juga harus membiayai sekolah anak-anaknya.

Setelah melewati hari-hari yang melelahkan dan berat, Yuni menemukan titik harapan. Ini setelah Pemkot Surabaya menggeber beberapa program pemberdayaan masyarakat guna membantu masyarakat terdampak dari penutupan lokalisasi Dolly.

“Diantara sekian banyak program, saya memutuskan ikut program pelatihan membatik,” tutur Yuni. Dengan mengikuti program pelatihan, Yuni berhasil membuat produk kain batik ikat celup dan kain batik celup kontemporer.  Ia benar-benar bersyukur. “Batik buatan saya laku Rp 500.000. Mulai saat itu saya niat memulai hidup baru menekuni usaha,” tegasnya.

Ternyata hasil yang ia dapatkan melebihi harapannya. Di Pahlawan Ekonomi, bukan hanya dapat ilmu, tapi banyak kawan baru yang sabar membantu saya mengembangkan usaha ini,” terang Yuni, yang juga owner Ata Collection. Ketika ditanya apa yang ia lakukan untuk lebih memajukan usahanya, Yuni menegaskan akan lebih meningkatkan kualitas dengan belajar teknik pewarnaan dan teknik canting batik tulis.

“Dengan lebih meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, saya bercita-cita ingin membuka gerai sendiri. Selain berjualan lewat online, kita juga harus memiliki gerai sendiri. Hal tersebut dilakukan agar pelanggan kita semakin percaya akan produk saya,” pungkas Yuni. (ton)