(bisnissurabaya.com) – Pekerja keras, jeli melihat peluang bisnis serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Itulah Saptuari Sugiharto. Baginya, kesempatan hidup yang diberikan Yang Maha Kuasa hendaknya tak hanya dipakai untuk mengejar materi, namun juga sebanyak mungkin berbuat kebaikan bagi sesama. Hidup itu harus ada keseimbangan sehingga segalanya bisa berjalani harmoni.

“Dalam setiap pertemuan saya selalu mengatakan kepada teman-teman bahwa hidup ini hanya sekali, sayang kalau hanya dipakai untuk mengejar materi saja. Alangkah baiknya kalau kita berlomba-lomba dalam mengumpulkan kebaikan sebagai bekal kita di akhirat nanti,” ungkap lelaki kelahiran Yogyakarta 1979 ini.

Di dunia entrepreneur muda, nama Saptuari Sugiharto, tergolong cukup dikenal. Maklum, lelaki ini bukan saja sukses membangun bisnisnya dari bawah, tapi dia mendapat berbagai penghargaan khususnya dibidang kewirausahaan. Diantaranya Indonesia Small Medium Bisnis Entrepreneur Award 2008 dan Most Promising Asia Pasific Entrepreneur Award 2009. Ditambah lagi, dia kerap tampil sebagai narasumber di seminar-seminar kewirausahaan dan motivasi.

Sukses membangun bisnis ternyata tak membuatnya terlena dan rakus dalam mengejar materi. Dia ingin hidupnya berguna bagi orang lain, dia ingin berbagi pada sesamanya.

“Sebenarnya, ada beberapa momen dalam hidup saya yang menginspirasi yang akhirnya memunculkan ide membangun gerakan #Sedekah Rombongan. Kalau melihat falsafah semut, jika dia berjalan sendiri dia tak bisa melakukan banyak hal. Tetapi, ketika semut berbaris, berjalan berombongan dengan teman-temannya maka biskuit yang besar pun bisa diangkatnya.

“Artinya jika kita membantu secara berombongan atau bersama-sama akan menjadi sesuatu yang besar dan berarti daripada kita melakukannya sendirian,” ungkap peraih ‘Young Entrepreneur Indonesia Franchise Award 2010’, ini.

Dirinya terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya meninggal saat dia kelas lima SD. Untuk kehidupan sehari-hari, ibunya lah yang banting-tulang berjualan makanan di pasar. ‘’Suatu hari ibu saya sakit, dan kami tak bisa membawanya ke dokter karena tak ada biaya. Akhirnya ibu hanya menjalani pengobatan herbal selama tujuh tahun dan selama itu tak ada tanda-tanda perbaikan kesehatannya”.

“Sementara saya sendiri berjuang untuk tetap bisa sekolah dan kuliah dengan biaya sendiri. Baru pada 2006 saya bisa membawa ibu ke rumah sakit untuk mendapatkan operasi. Ternyata ibu saya mengidap tumor di rahim, dan akhirnya menjalani pengangkatan rahim,” tutur pemilik bisnis ‘Kedai Digital’ yang memiliki 60 cabang lebih di 36 kota.

Panti Asuhan

Pengalaman itu sangat membekas dibatin Saptuari. Dia pun berpikir pastilah banyak anak-anak yang seperti dirinya, yang tak mampu membawa orangtua berobat ke dokter karena ketiadaan biaya. Momen lainnya adalah saat tahun 2011 dimana dia kebetulan melihat sebuah panti asuhan di Yogyakarta yang membutuhkan pertolongan.

“Panti asuhan itu adalah tempat penampungan anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya atau keluarganya. Disana ada anak-anak korban upaya aborsi orangtuanya, sehingga terlahir cacat. Atau ada juga anak sehat namun dibuang oleh orangtuanya,” tutur alumnus UGM yang mengaku menulis artikelnya tentang panti asuhan sambil menangis.

Kemudian dia menuangkan kisah panti asuhan itu dalam tulisan di blognya. “Di luar dugaan banyak respon dari pembaca dan mereka berniat untuk membantu untuk panti asuhan itu. Mereka bertanya pada saya bagaimana caranya untuk membantu. Akhirnya saya pun menghimpun dana yang diberikan oleh pembaca blog saya,” jelasnya.

Dalam sekejap jumlah dana besar terkumpul, dan Saptuari langsung mendatangi panti asuhan itu dan menyampaikan bantuan. Pihak panti sangat kaget atas bantuan yang diberikan. “Saya merasa bahagia sekali bisa membantu mereka. Apalagi mereka memberi doanya kepada saya. Itu merupakan tambahan energi yang luar biasa untuk saya,” ungkap Satuari seraya bertekad dia akan semakin sering membantu para duafa yang membutuhkan pertolongan, salah satunya adalah lewat tulisan-tulisan yang dipublis di blognya.

Menariknya, kata Saptuari, setelah kejadian itu bantuan atau sumbangan dari berbagai pihak masih terus mengalir. Lalu muncullah ide melembagakan gerakan sosial itu dengan nama #Sedekah Rombongan. “Awalnya kami melakukan penggalangan dana per individu. Namun karena sumbangan terus mengalir akhirnya terbentuklah tim yang terus menginformasikan daftar orang-orang diberbagai tempat yang perlu bantuan. Jadi bagi siapa pun yang ingin menyumbang bisa melihat website atau twitter kami tentang siapa-siapa yang membutuhkan pertolongan,” paparnya.

Enam tahun berkiprah, #Sedekah Rombongan semakin berkibar dan  berhasil melebarkan sayap organisasi di berbagai kota. Lewat gerakan mulia itu, sudah banyak orang yang terbantu. Asal tahu saja, mereka yang dibantu tidak hanya warga Yogyakarta saja melainkan orang-orang tak mampu yang berasal dari daerah lain.

Menurut dia, jumlah dana yang telah disalurkan pada mereka yang membutuhkan, sejak mulai berdiri hingga sekarang adalah lebih dari Rp 45 miliar, dengan jumlah orang yang terbantu sekitar 22.000 orang. Sebuah capaian yang luar biasa.

“Kami juga telah memiliki 36 ambulans dan 14 rumah singgah di berbagai kota. Rumah singgah ini sangat bermanfaat bagi para pasien tak mampu yang  harus berobat di sebuah rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya,” kata Saptuari.

“Di rumah singgah juga disiapkan pendampingan bagi pasien untuk menumbuhkan rasa optimis mereka, dengan begitu mereka bisa cepat sembuh,” tambah Saptuari, yang memiliki 300 lebih relawan yang siap membantu #Sedekah Rombongan dalam beraktivitas.

Meski gerakan ini bertujuan mulia untuk membantu sesama yang membutuhkan, namun bukan berarti semua orang  memandang apa yang dilakukan tim #Sedekah Rombongan adalah positif.  Ada saja kecaman muncul. “Itu karena kami selalu memposting foto saat memberikan sumbangan. Dalam foto itu, selain ada tim kami, juga ada gambar penerima sumbangan serta nominal sumbangan yang diberikan,” tuturnya.

Maksud publikasi itu, kata Saptuari, salah satunya  adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban #Sedekah Rombongan kepada  masyarakat khususnya para donatur bahwa sumbangan telah disalurkan.  “Tapi ternyata niatan kami itu disangka sebagian orang sebagai pamer, riya, dll. Padahal bukan itu maksudnya. Meski ada yang mengecam, kegiatan publikasi itu tetap kami lakukan sampai sekarang,” katanya. (diana runtu)