Berdiri Sejak 1962, Tahu Teck-teck H. Ali Tetap Primadona

98

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Tahu Teck-teck dikenal sebagai kuliner khas Surabaya. Biasa disebut tahu teck, karena menu ini diambil dari suara gunting besi (Tek Tek Tek) yang biasa digunakan untuk memotong semua bahan campurannya. Olahan tahu goreng dipotong kecil-kecil lalu dicampurkan lontong, kentang goreng, taoge, daun seledri, kemudian disiram bumbu kacang dan petis berwarna hitam pekat.

Makin renyah ditaburi kerupuk udang gurih sungguh menggoda selera makan. Bagi yang belum pernah mencoba tahu teck terkesan rasanya manis, karena campuran kecap, kacang tanah, petis, dan bawang putih serta cabai pada bumbunya.

Salah satu warung tahu teck yang terkenal di Kota Pahlawan adalah Tahu Teck-Teck Pak H. Ali di Jalan Dinoyo, Surabaya. Sejak buka pada 1962, warung ini di kelola oleh pemilik generasi pertama yaitu Pak H. Ali. Sepeninggal H.Ali, warung tersebut dilanjutkan oleh putranya Supata.

Awalnya, Pak H. Ali berkeliling menjajakan tahu teck-teck dari kampung ke kampung dengan gerobak, hingga pada 1970 mampu membeli lahan untuk berjualan dengan seharga 1,5 juta.

“Dulu tahun segitu 1,5 juta ya terbilang cukup mahal, jualan tahu teck aja Rp 1,” ujar Supata. Ia mengelola Tahu Teck-Teck Pak H Ali semenjak ayahnya berpulang pada 2014 silam. “Kalau bantu-bantu bapak sudah dari kecil, tetapi untuk benar-benar mengelola, yaa semenjak sepeninggal bapak,” kenang Supata.

Dalam sehari lelaki tiga anak ini bisa menjual hingga 300 porsi, dibantu oleh ketiga karyawannya. Tak hanya bisa dimakan ditempat saja, lezatnya tahu teck H.Ali seharga Rp 14.000 per porsi ini juga bisa dibungkus  dan menerima pesanan. Tahu Teck yang buka setiap hari mulai pukul 10.00 – 01.00 dini hari, dan Minggu buka pukul 5 sore tak pernah sepi dari pembeli.

“Masih siap-siap buka saja sudah banyak yang antri, apalagi kalau jam 5 sore keatas makin ramai,”imbuhnya. Untuk menjaga supaya konsumen tetap tidak berpindah ke lain hati, lelaki kelahiran tahun 1969 ini punya strategi khusus.

“Selain menjaga kualitas rasa dan bahan baku dijaga, hubungan antara kami penjual dengan konsumen juga harus selalu dijaga” ujar lelaki asli Lamongan ini. Uniknya, meskipun sudah melegenda,Tahu Teck-Teck Pak H.Ali ini tidak buka cabang dimanapun. “Saya tidak ada niatan untuk buka cabang, biarlah tetap disini saja, bisa dibilang sebagai kenangan bapak saya,” ucap Supata seraya mengingat mendiang almarhum. (meta)