(bisnissurabaya.com) – Kita sudah cukup familiar dengan istilah koperasi, karena koperasi merupakan salah satu dari tiang penyangga ekonomi di Indonesia, selain BUMN dan swasta. Namun dalam perkembangannya dewasa ini, masyarakat semakin jarang bersinggungan dengan koperasi. Sehingga tidak heran jika pertumbuhan koperasi baru lebih rendah dibandingkan dengan koperasi yang tutup karena tidak ada tata kelola yang kurang baik.

Secara bahasa, koperasi berasal dari dua suku kata bahasa inggris, yaitu ‘co‘ dan ‘operation‘. Co berarti bersama, dan operation berarti bekerja. Sehingga dapat diartikan co-operation (koperasi) adalah melakukan pekerjaan secara bersama (gotong-royong). Secara istilah, arti koperasi menurut UU RI Nomor 22 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, disebutkan bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan berlandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Dalam koperasi, modal dan kegiatan usaha dilakukan secara bersama-sama dan hasilnya juga untuk kesejahteraan anggotanya secara bersama-sama.

Koperasi berperan dalam membangun tatanan perekonomian nasional. Koperasi adalah satu badan usaha di Indonesia dan masyarakat tempat memberdayakan dirinya. Oleh karena itu, koperasi sebagai salah satu urat nadi perekonomian bangsa perlu dikembangkan bersama kegiatan usaha ekonomi lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koperasi memiliki peran yang besar di masyarakat. Jika banyak orang yang dapat mengambil kemanfaatan koperasi, maka ekonomi masyarakat juga akan kuat. Oleh arena itu, tidak mengherankan jika koperasi disebut sebagai saka guru atau tiang utama perekonomian di Indonesia.

Namun demikian, koperasi masih banyak memiliki sisi kelemahan, meski juga memiliki beberapa kelebihan. Hal-hal yang menjadi kelebihan koperasi di Indonesia antara lain sebagai berikut :

  1. Bersifat sukarela dan terbuka.
  2. Besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib tidak memberatkan anggota.
  3. Setiap anggota memiliki hak suara yang sama, bukan berdasarkan besarnya modal.
  4. Bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota dan bukan semata-mata mencari keuntungan.

Sedangkan hal-hal yang menjadi kelemahan koperasi di Indonesia antara lain sebagai berikut :

  1. Koperasi sulit berkembang karena modal terbatas.
  2. Kurang cakapnya pengurus dalam mengelola koperasi.
  3. Pengurus kadang-kadang tidak jujur.
  4. Kurangnya kerja sama antara pengurus, pengawas, dan anggotanya

Jadi kesimpulannya koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia berarti bahwa koperasi sebagai pilar utama dalam sistem perekonomian nasional. Dengan tujuan utama koperasi yaitu meningkatkan kesejahteraan anggotanya, koperasi dapat menjadi penyangga dalam perekonomian anggotanya. Walaupun disamping itu banyak yang menganggap bahwa keberadaan koperasi terlihat samar dikarenakan apakah badan koperasi ini masih dimiliki oleh perorangan ataupun unit usaha yang dalam pelaksaannya banyak terjadi keganjilan. Tetapi kenyataannya koperasi dapat memberikan manfaat-manfaat yang luar biasa yaitu dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan terutama di Indonesia. Jadi kalau koperasi dapat dikelola dengan baik, jelas, terbuka, dan sukarela atas asas kekeluargaan maka koperasi yang berjalan akan dapat memenuhi tujuan utamanya. Peran pemerintah dalam mengembangkan koperasi ini juga tidak kalah penting. Mulai dari berbagai kota besar hingga daerah terpencil, jika dikelola dengan sangat baik niscaya Koperasi Sebagai Sokoguru Perekonomian Indonesia tidak hanya sekedar pernyataan saja tapi benar-benar bisa dibuktikan.

Namun sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya muslim, maka sangat diperlukan keberadaan dari koperasi syariah. Peningkatan pemahaman masyarakat atas perilaku syariah harus mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah agar keikutsertaan masyarakat dalam pengembangan ekonomi, khususnya ekonomi syariah, akan semakin meningkat pula. Apalagi ada upaya yang signifikan dari pemerintah untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan. Maka akan ada sambutan luar biasa dari masyarakat yang sudah lama mendambakan adanya koperasi syariah di Indonesia. Demikian pula halnya dengan pengembangan koperasi sebagai pilar utama perekonomian di Indonesia, mulai bermunculan beberapa koperasi syariah untuk menampung pelaku usaha yang menginginkan agar usahanya bisa berjalan sesuai dengan hukum Islam.

Koperasi syariah adalah badan usaha koperasi dengan menggunakan prinsip-prinsip syariah, memiliki aturan sama dengan koperasi umum. Perbedaannya terletak pada produk-produk yang ada dikoperasi umum diganti dan disesuaikan nama dan sistemnya dengan tuntunan dan ajaran agama islam. Koperasi syariah mempunyai kesamaan pengertian dalam kegiatan usahanya bergerak dibidang pembiayaan, investasi, dan simpanan sesuai pola bagi hasil (syariah), atau lebih dikenal dengan koperasi jasa keuangan syariah. Sebagai contoh produk jual beli dalam koperasi umum diganti namanya dengan istilah murabahah, produk simpan pinjam dalam koperasi umum diganti namanya dengan mudharabah. Tidak hanya perubahan nama, sistem operasional yang digunakan juga berubah, dari sistem konvesional (biasa) ke sistem syariah yang sesuai dengan aturan Islam.

Terdapat beberapa nilai-nilai syariah yang bisa diadopsi kedalam nilai-nilai koperasi, yaitu:

  • Shiddiq yang mencerminkan kejujuran, akurasi dan akuntabilitas.
  • Istiqamah yang mencerminkan konsistensi, komitmen dan loyalitas.
  • Tabligh yang mencerminkan transparansi, kontrol, edukatif, dan komunikatif
  • Amanah yang mencerminkan kepercayaan, integritas, reputasi, dan kredibelitas.
  • Fathanah yang mencerminkan etos profesional, kompeten, kreatif, dan inovatif.
  • Ri’ayah yang mencerminkan semangat solidaritas, empati, kepedulian, dan awareness.
  • Mas’uliyah yang mencerminkan responsibilitas.

Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut dipastikan masyarakat yang tadinya ragu untuk bergabung dengan koperasi konvensional yang ada saat ini, akan lebih percaya diri dengan cara pengelolaannya. Akan timbul semangat kebangkitan baru dari masyarakat dalam menerjuni usaha melalui koperasi syariah karena sesuai dengan pemahaman religi yang mereka miliki.

Penulis :

Yudi Sidharta, SE., MSA. (Dosen Tetap STIESIA SURABAYA)