Bambang Sulistyo, Bukan Pengusaha Biasa

500

(bisnissurabaya.com) – Jadi pengusaha itu sah-sah saja. Mengembangkan bisnis hingga meraup keuntungan jutaan bahkan triliunan rupiah. Namun, tak sama halnya bagi seorang Bambang Sulistyo.

Sosok putra daerah Jawa Timur (Jatim) ini patut diperhitungkan. Posisinya sebagai komisaris perusahaan teknologi PT Eneco Holding Jepang betul-betul ia nikmati. Sebab, Bambang tidak melulu bekerja dan cari untung, tapi lebih dari sekedar itu. Pekerjaan apapun yang ia lakukan memiliki sebuah tujuan mulia, yakni untuk kemajuan negaranya Indonesia.

Sebagai seorang pengusaha, pria alumni Perbanas Jakarta Jurusan Fakultas Manajemen tersebut sempat mengawali sepak terjang di bisnis batu bara, selanjutnya ia pernah membuka pabrik lampu LED Solar Cell yang kemudian ia pasok ke Manokwari Papua.

“Saya trenyuh kalau melihat kenyataan di negara kita, terutama saat saya melihat bahwa di wilayah kepulauan timur seperti Manokwari itu susah mendapat pencahayaan kalau malam,” kenang ayah dari Rasti Ayu Nur Prastianti (19) itu.

Dikenal memiliki rasa kemanusiaan tinggi, ia rela turun sendiri melihat berbagai ketimpangan sosial dan teknologi yang diserap oleh masyarakat pinggiran. “Saya dulu memperkenalkan barang ini (lampu) untuk melihat kebenaran. Terutama sebelum saya melangkah ke Eneco, saya sudah berkeliling memberi sampel lampu LED Solar Cell tenaga matahari ke Manokwari Papua.

Baru-baru ini, Bambang juga berhasil menjembatani penghibahan mesin pengolah Bahan Bakar Minyak (BBM) tenaga air bernama Eneco Plasma Fusion dari Jepang menuju Komando Armada Timur (Koarmatim). Lebih hebatnya lagi, mesin berupa tangki dengan tenaga ionisasi senilai total Rp 15,7 miliar tersebut diberikan secara suka rela, karena kecintaannya pada Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Semua yang saya lakukan bagi negara ini bukan untuk bisnis. Semata-mata saya ingin membantu membangun negara khususnya di TNI. Tapi yang memberikan ini adalah Jepang, saya hanya menjembatani,”terang suami dari Nur Laila tersebut saat dijumpai secara eksklusif di salah satu hotel bintang empat di Surabaya.

Memang apa yang ia lakukan bukan tanpa alasan. Darah nasionalis kental mengalir dalam diri Bambang diwariskan oleh almarhum ayah yang pernah mengabdikan diri sebagai seorang prajurit bela negara.

Bambang menolak jika proyek hibah hasil negoisasinya dengan Yamamoto, owner PT Eneco Holding ini dikatakan sebagai ajang bisnis. Bahkan ia menegaskan tak sepeser uang pun yang mengalir. Persahabatan dengan negara lain, hubungan bilateral yang baik selalu ia jaga sehingga mendapat mandat. Kepercayaan dan kejujuran itu mahal, itulah yang selama ini ia terapkan sebagai mental seorang pebisnis.

“Saya tidak bisnis di TNI Angkatan Laut (AL),  murni karena rasa cinta tanah air. Itu kalau beli spare partnya (Eneco Plasma, red)  bisa triliunan,”imbuhnya. BBM adalah kebutuhan nomor satu, setingkat ‘VVIP’. Oleh karenanya ia bangga bisa membantu menerjunkan langsung alat efisiensi bahan bakar tersebut.

Boleh dibilang pria 56 tahun ini sudah dirancang oleh Tuhan menjadi seorang pengusaha sesuai cita-cita masa kecilnya. Motto hidup menyemaikan kasih sayang menjadi tolak ukur Bambang Sulistyo dalam bergaul serta membina hubungan kerjasama. Dia juga menghindari cari musuh, itu kunci utamanya untuk bisa masuk dalam ranah semua kalangan. Hubungan emosional yang baik membangun sebuah kepercayaan.

Cita-cita awal Bambang memang menjadi pengusaha. Bukan semata-mata cari uang untuk dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga berguna bagi negara. Terutama memajukan TNI agar dilihat dunia, bukan sekedar senjata atau kekuatan saja, tapi juga ilmuwan dan teknologi. Motivasinya memperbesar TNI tanpa embel-embel bisnis. (lely)